
Faktor penting dalam permasalahan lingkungan adalah besarnya populasi manusia. Pertambahan jumlah penduduk merupakan faktor utama yang mempengaruhi perkembangan pemukiman dan kebutuhan prasarana dan sarana. Pertambahan jumlah penduduk juga akan menyebabkan terjadinya peningkatan kebutuhan energi seperti energi listrik, minyak tanah, premium dan solar. Ruang terbuka hijau semakin terdesak keberadaannya dan berubah menjadi bangunan untuk mencukupi kebutuhan fasilitas penduduk kota. Penyebaran jumlah penduduk yang tidak merata dalam suatu wilayah, akan memberikan pengaruh negatif terhadap daya dukung lingkungan. Kebutuhan energi sebagai dampak adanya kegiatan pembangunan, meningkatkan pengaruhnya terhadap kualitas udara Kota Pekanbaru. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kebutuhan ruang terbuka hijau berdasarkan luas wilayah, jumlah penduduk, dan jumlah CO2. Standar kebutuhan ruang terbuka hijau diperoleh dari studi literatur.
Oleh:
RISWANDI STEFANUS TINAMBUNAN, MSi
Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB)
Jl Suryan No 5 Labuh Baru, Pekanbaru
Riau 28291
COVER PRAKATA
RIWAYAT HIDUP
ABSTRAK
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di dalam kerangka pembangunan nasional, pembangunan daerah merupakan bagian yang terintegrasi. Pembangunan daerah sangat menentukan keberhasilan pembangunan nasional secara keseluruhan. Dapat diamati bahwa perkembangan pembangunan daerah telah berlangsung dengan pesat dan diperkirakan akan terus berlanjut. Perkembangan ini akan membawa dampak keruangan dalam bentuk terjadinya perubahan pola pemanfaatan ruang, baik direncanakan ataupun tidak direncanakan.
1.2 Kerangka Pemikiran
1.3 Rumusan Masalah
1.4 Tujuan Penelitian
1.5 Manfaat Penelitian
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ruang Terbuka Hijau
Ruang terbuka hijau kota merupakan bagian dari penataan ruang perkotaan yang berfungsi sebagai kawasan lindung. Kawasan hijau kota terdiri atas pertamanan kota, kawasan hijau hutan kota, kawasan hijau rekreasi kota, kawasan hijau kegiatan olahraga, kawasan hijau pekarangan. Ruang terbuka hijau diklasifikasi berdasarkan status kawasan, bukan berdasarkan bentuk dan struktur vegetasinya (Fandeli, 2004).
2.2 HutanKota
2.3 Fungsi Hutan Kota
2.4 Pencemaran Lingkungan Perkotaan
2.5 Serapan Vegetasi Terhadap Karbon Dioksida
2.6 Sistem Informasi Geografis
2.7 Pembangunan Berkelanjutan
III. METODE PENELITIAN
Lokasi dan Waktu Penelitian
Alat dan Bahan
Metode Penelitian
Pengumpulan Data
Analisis Data
Analisis Penutupan Lahan
Cropping
Pengambilan Data Lapangan
Klasifikasi Citra
Akurasi Klasifikasi
Analisis Serapan Karbon Dioksida
Analisis Emisi Karbon Dioksida
Penghitungan Emisi Karbon Dioksida dari
Konsumsi Listrik
Penghitungan Emisi Karbon Dioksida dari
Konsumsi Minyak Tanah
Penghitungan Emisi Karbon Dioksida dari
Konsumsi Premium
Penghitungan Emisi Karbon Dioksida dari
Konsumsi Solar
Total Emisi Karbon Dioksida
3.3.2.4 Selisih Serapan Karbon Dioksida dan Emisi Karbon Dioksida
Analisis Standar Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau
Analisis Kesesuaian Rencana Umum Tata Ruang Kota untuk Kawasan Hijau terhadap
Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau Arahan Revegetasi dengan Pembangunan Hutan Kota
IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
Letak dan Luas Wilayah
Topografi
Geologi
Hidrologi
Klimatologi
Kependudukan
Kesesuaian Lahan
Arahan Pengembangan Kawasan Lindung
Arahan Pengembangan Kawasan Budidaya
4.8 Bentuk Ruang Terbuka Hijau di Kota Pekanbaru
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1Analisis Penutupan Lahan
Klasifikasi Citra Landsat ETM+
Pemotongan Citra (Cropping)
Klasifikasi Penutupan Lahan
Klasifikasi Penutupan Lahan
Akurasi Klasifikasi
Analisis Serapan Karbon Dioksida
Analisis Emisi Karbon Dioksida
Emisi Karbon Dioksida dari Sumber Penggunaan Listrik
Emisi Karbon Dioksida dari Sumber Penggunaan Listrik
Emisi Karbon Dioksida dari Sumber Penggunaan
Minyak Tanah
5.3.3 Emisi Karbon Dioksida dari Sumber Penggunaan
Premium
Emisi Karbon Dioksida dari Sumber Penggunaan Solar
Total Emisi Karbon Dioksida
Selisih Serapan dan Emisi Karbon Dioksida
Analisis Kebutuhan Luas Ruang Terbuka Hijau
5.5.1 Kebutuhan Luas RTH Berdasarkan Inmendagri No.14 Tahun l988
5.5.1 Kebutuhan Luas RTH Berdasarkan Inmendagri No. 14
Tahun l988
Kebutuhan Luas RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk
Kebutuhan Luas RTH Berdasarkan Sebaran Emisi Karbon
Dioksida
Ketercukupan Ruang Terbuka Hijau Berdasarkan Existing
Condition Ruang Terbuka Hijau
5.6 Analisis Kesesuaian Rencana Umum Tata Ruang Kawasan Hijau
terhadap Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau
5.6.1 Kesesuaian RUTRK Kawasan Hijau terhadap Kebutuhan
RTH Berdasarkan Inmendagri No. 14 Tahun 1988
5.6.2 Kesesuaian RUTRK Kawasan Hijau terhadap Kebutuhan
RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk
5.6.3 Kesesuaian RUTRK Kawasan Hijau terhadap Kebutuhan
RTH Berdasarkan Emisi Karbon Dioksida
5.6.4 Ketercukupan Ruang Terbuka Hijau Berdasarkan Rencana
Umum Tata Ruang Kota
5.7 Arahan RevegetasiPenanaman Vegetasi Berdasarkan Existing Condition RTH
Penanaman Vegetasi Berdasarkan RUTRK Pekanbaru Tahun 2004
Perbedaan Luas Penanaman Vegetasi
Pengembangan Hutan Kota
Manfaat Hutan Kota
Kawasan Potensial untuk Lokasi Penanaman Hutan Kota
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN 1 LAMPIRAN 2 LAMPIRAN 3 LAMPIRAN 4 LAMPIRAN 5