
Setiap tanggal 29 Juni Indonesia memperingati Hari Keluarga Nasional. Bulan berikutnya, setiap tanggal 11 Juli Indonesia juga ikut memperingati Hari Kependudukan Dunia. Dari berbagai upacara peringatan itu banyak rakyat Indonesia makin memahami makna kependudukan dan perananannya dalam pembangunan, termasuk peranan penduduk sebagai ujung tombak pembangunan yang berkelanjutan. Selama ini, bersama dengan Departemen Kesehatan, Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Tenaga Kerja, BKKBN telah memberikan peran dan sumbangannya yang signifikan dalam membangun sumber daya manusia. Kalau masih ada yang menyangsikan peranan BKKBN khususnya, dan peranan penduduk dalam pembangunan, kita semua menjadi sedih dan haras bertanya apa makna berbagai upacara besar yang biasanya diadakan dalam berbagai hari kependudukan itu. Tulisan di atas merapakan cuplikan dari salah satu artikel dalam buku ini, yang pernah penulis buat dan beberapa waktu lalu muncul di sebuah surat kabar. Pasalnya, kependudukan memang masalah paling menarik untuk dibahas. Simak saja, misalnya, penduduk Indonesia tahun 2000 yang semula diperkirakan akan mencapai sekitar 275 juta jiwa, ternyata dengan BKKBN dan bantuan jajaran pembangunan lainnya telah berhasil membantu keluarga Indonesia menghasilkan penduduk yang jumlahnya hanya sekitar 206 juta jiwa saja.
Oleh:
Prof Dr Haryono Suyono
Buku Seri Memotong rantai Kemiskinan (272 Halaman)
No ISBN: 979-3462-01-9
Penerbit : Yayasan Damandiri
Cetakan : I Mei 2003
Sekapur Sirih (Penerbit)) :
Kata Pengantar (Prof.DR.Haryono Suyono ) :
Kata Sambutan (SEKERTARIS WAKIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA) :
Bab I ( PENDAHULUAN ) :
Era globalisasi dewasa ini mengharuskan setiap bangsa melakukan penyesuaian dengan menyeluruh. Era yang ditandai dengan makin maraknya investasi pada manusia dan penghargaan yang tinggi terhadap manusia itu menuntut pula kebebasan pada setiap individu untuk melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuan dan pilihannya.
Masyarakat Indonesia yang biasanya diatur secara sentralistik dan berorientasi pada kelembagaan tingkat pusat mengalarni perubahan yang drastis. Kita sekarang berada pada posisi yang mengarah kepada masyarakat yang menganut desentralisasi yang marak, demokratis, pembangunannya bersifat people centered dan transformatik, sehingga kesatuan yang dianutnya lebih bersifat conditional humanistic. Untuk itu di sernua lini diperlukan sumber daya manusia yang bermutu, bermoral serta sekaligus mempunyai sifat dan kedalaman religius yang tinggi.
Bab II ( OTONOMI DAERAH PERBAIKI NASIB RAKYAT ) :
Setiap tanggal 29 Juni Indonesia memperingati Hari Keluarga Nasional. Setiap tanggal 11
Juli Indonesia juga ikut memperingati Hari Kependudukan Dunia. Dari berbagai upacara
peringatan itu banyak rakyat Indonesia makin memahami makna kependudukan dan
perananannya dalam pembangunan, termasuk peranan penduduk sebagai ujung tombak
pembangunan yang berkelanjutan. Selama ini, bersama dengan Departemen Kesehatan, Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Tenaga Kerja, BKKBN telah
memberikan peran dan sumbangannya yang signifikan dalam membangun sumber daya manusia. Kalau masih ada yang menyangsikan peranan BKKBN khususnya, dan peranan penduduk dalam pembangunan, kita semua menjadi sedih dan harus bertanya apa makna
berbagai upacara besar yang biasanya diadakan dalam berbagai hari kependudukan itu.
Bab III ( BERAPA JUTA LAGI ANAK HARUS DIKORBAN ) :
Belum lama ini seluruh dunia telah memperingati Hari Kependudukan Dunia 2001. Di Indonesia, peringatan itu kecuali ditandai dengan suatu pertemuan meja bundar (round table discussion) yang ditutup dengan acara makan siang bersama Presiden Gus Dur dibarengi pula dengan fenomena kependudukan yang menarik. Fenomena itu adalah kenyataan hahwa Indonesia mengikuti tren dunia dengan pertambahan jumlah penduduk urban yang tinggi, penduduk remaja yang membengkak dan warga lansia yang meningkat dengan drastis.
Pertambahan penduduk urban yang tinggi itu bukan hanya karena adanya migrasi penduduk perdesaan ke kota, tetapi juga karena desa-desa bertambah maju dan penduduk desa tersebut siap atau tidak, karena "desanya" berubah menjadi "kota", dengan otomatis dan menyeluruh berubah menjadi "penduduk kota" atau "penduduk urban".
Bab IV( MENGUBAH IMPIAN JADI KENYATAAN) :
PENDUDUK Indonesia tahun 2000 yang semula diperkirakan 275 juta jiwa, ternyata hanya 206 juta jiwa saja. Kondisi ini tidak lepas dari peran Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang telah menurunkan tingkat fertilitas atau tingkat kelahiran yang biasanya sekitar enam anak menjadi kurang dari tiga anak.
Kenyataan menunjukkan, penurunan tingkat fertilitas diikuti dengan penurunan drastis tingkat kematian bayi dan anak-anak. Dengan jumlah anak yang jauh lebih sedikit dan lebih sehat, para orangtua lebih memperhatikan dan lebih mampu menyekolahkan anak-anaknya.
Paling tidak ini terlihat dari keberhasilan program wajib belajar sembilan tahun, dimana anak-anak usia sekolah dasar hampir seluruhnya bersekolah. Bahkan, murid kelas I dan kelas n SD berkurang, sehingga banyak sekolah dasar yang membentuk afiliasi dengan SLTP untuk menampung tamatan SD. Ini berarti KB telah membuat anak-anak kita lebih pandai.
Namun demikian, penanganan persoalan penduduk di Indonesia belum selesai. Saat ini proporsi penduduk mengarah ke penduduk urban dengan kecepatan tinggi. Penyebabnya bukan hanya karena migrasi penduduk pedesaan ke kota, tetapi juga karena desa-desa bertambah maju. Penduduk yang "desa"nya berubah jadi "kota" - siap atau tidak -otomatis berubah jadi penduduk kota atau urban.
* ( Riwayat Hidup) :
* ( KLIPPING) :
* (Bahan Bacaan) :