
Bagi Bangsa yang sedang berkembang seperti Indonesia, memberdayakan perempuan melalui pendidikan adalah investasi asset bangsa. Ia sekaligus merupakan ‘sakaguru” Memotong Rantai kemiskinan untuk Mengantar Keluarga Miskin Naik Kelas.
Ada banyak alasan kenapa begitu pentingnya pemberdayaan perempuan dalam Negara yang sedang berkembang adalah identik dengan keberhasilan usaha membangun bangsa. Kalau ada rekapitulasi dalam bidang perbankan, mestinya ada rekapitulasi dalam upaya pemberdayaan manusia yaitu dengan melipatgandakan program dan ilmu untuk pemberdayaan perempuan.
Oleh:
Prof Dr Haryono Suyono
Buku Seri: Memotong rantai Kemiskinan (254 Halaman)
No ISBN : 979-3462-02-7
Penerbit : Yayasan Damandiri
Cetakan : I Mei 2003
Sekapur Sirih (Penerbit)) :
Kata Sambutan (Menteri Negara Kordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat) :
Bab I (PENDAHULUAN) : MENGGARAP BEDENG BIBIT HARAPAN
Dalam suasana globalisasi yang sekaligus dibarengi adanya krisis multidimensi di Indonsia sekarang ini semua pihak sadar bahwa penduduk Indonesia yang jumlahnya telah melebihi 211 juta jiwa itu harus dikembangkan menjadi manusia unggul.
Bagi Bangsa yang sedang berkembang seperti Indonesia, memberdayakan perempuan melalui pendidikan adalah investasi asset bangsa. la sekaligus merupakan 'sakaguru' Mengantarn Keluarga Miskin Naik Kelas.
Ada banyak alasan kenapa begitu pentingnya pemberdayaan perempuan dalam negara yang sedang berkembang. Keberhasilan pemberdayaan itu di negara berkembang adalah identik dengan keberhasilan usaha membangun bangsa. Kalau ada rekapitulasi dalam bidang per-bank-kan, mestinya ada rekapitulasi dalam upaya pemberdayaan manusia yaitu dengan melipatgandakan program dan ilmu untuk pemberdayaan perempuan.
Bab II ( MENEBAR BENIH HARAPAN) : Gerakan Peningkatan Mutu Pendidikan
Pertengahan Maret 2002 Menko Kesra RI, Drs. Jusuf Kalla, memimpin Rakor Kesra diikuti para Menteri yang terkait erat dengan penanganan masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Rapat tersebut antara lain memutuskan untuk mengembangkan Gerakan Nasional Peningkatan Mutu Pendidikan di Indonesia. Dengan gerakan ini diharapkan dapat dirangsang upaya bersama memberi perhatian dan komitmen yang tinggi untuk memacu peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Upaya ini merupakan investasi yang diyakini bisa merupakan langkah strategis untuk menghasilkan sumber daya manusia yang bermutu. Berbeda dengan investasi dalam bidang industri dan perdagangan yang bisa segera menghasilkan, investasi dalam bidang pendidikan adalah investasi jangka panjang yang memerlukan dukungan sosial budaya yang sangat luas dan sering menyangkut percontohan yang harus dimulai dari para aktor sendiri dan keluarganya.
Bab III ( MEMUPUK BENIH HARAPAN) : Peranan Pendidikan Memotong Rantai Kemiskinan
Indonesia dengan penduduk sekitar 211 juta jiwa pada tahun 2002 memerlukan usaha terus menerus yang konsisten untuk memerangi/memecahkan masalah penduduknya yang masih berada dibawah garis kemiskinan. Upaya memerangi kemiskinan itu harus merupakan komitmen semua komponen pembangunan yang dilakukan dengan terpadu dan terus menerus pada sasaran yang sama, yaitu keluarga kurang mampu, baik menyangkut kepala keluarganya, anak-anaknya atau anggota lain dari keluarga tersebut.
Apabila komitmen itu tidak seragam, yaitu setiap komponen pembangunan mencari sasarannya sendiri-sendiri, tidak mustahil hasilnya akan tidak maksimal dan kemiskinan yang mungkin saja ditangani akan tumbuh kembali dengan magnitute yang justru lebih membesar.
Bab IV( KIPRAH KARTINI-KARTINI BARU ) : Kemiskinan dan Pemberdayaan Perempuan
Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (Meneg PP), Ibu Sri Redjeki Sumaryoto, akhir Oktober 2002 mengundang Yayasan Damandiri untuk menyajikan paparan secara lengkap tentang upaya pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan perempuan yang didukung oleh Yayasan Damandiri, di kantornya.
Sesuai harapan yayasan, pertemuan ini merupakan kelanjutan yang membesarkan hati dari Round Table Discussion tentang Penanggulangan Pengentasan Kemiskinan di Indonesia yang diadakan oleh Menko Kesra, Drs. JusufKalla, di kantornya tanggal 16 Oktober lalu. Pertemuan itu memberi harapan karena pemerintah tetap memberikan dorongan dan dukungan kepada berbagai lembaga masyarakat, termasuk kepada Yayasan Damandiri, untuk mengambil peran positip dalam upaya-upaya pemberdayaan masyarakat yang pernah diadakan dan masih berlangsung sampai dewasa ini.
Pertemuan dan paparan Yayasan Damandiri yang dihadiri oleh seluruh pejabat teras Kantor Meneg PP itu dilakukan secara lengkap dan disertai dialog yang menarik dalam suasana kebersamaan dan saling pengertian. Pertemuan yang berlangsung sekitar dua jam itu akan dilanjutkan dengan pertemuan-pertemuan lanjutan untuk membahas kemungkinan kerjasama untuk membantu ibu-ibu, kaum perempuan dan anak-anak, khususnya dari keluarga miskin, dalam proses pemberdayaan menjadikan mereka sumber daya manusia yang berkualitas.
*( Komentar) :
Dra Dewi Motik Pramono, MSI
RA Dewi Hari Sabarno, SIP
Brigjen TNI Kartini Hermanus
Dra Hj Inne Erna Adriana Soekaryo, Apt
Dr Srihartati Purnaman Pandi MPH
Sebagai insan perempuan yang mengalami berbagai zaman, dari zaman penjajahan Belanda maupun Jepang, zaman perjuangan untuk merdeka , serta zaman Merdeka sejak 17 Agustus 1945, saya masih sering terhanyut membaca tulisan-tulisan Pak Haryono pada masa ini, dimasa yang jauh berbeda dengan masa saya kecil, masa saya sekolah dan tumbuh menjadi remaja, serta menjadi seorang ibu . Tulisan-tulisannya tidak saja mengulas secara ilmiah dengan gaya keahliannya sebagai seorang sosiolog , seorang komunikator dan seorang akhli statistik serta akhli demografi, tetapi yang menarik adalah ungkapannya hampir selalu bernuansa realitas lapangan dan kemasyarakatan.
Dr Muhajir Efendi
* ( Riwayat Hidup) :
* ( KLIPPING) :
* (Bahan Bacaan) :