
Sumber Badan Pusat Statistik menyebutkan, rata-rata penduduk perkotaan sudah melompat mendekali angka 45 persen dari seluruh penduduk Indonesia. Angka ini kemungkinan akan mendekati 50 persen atau lebih, seiring munculnya ibukota kabu-paten baru dan bertambahnya kola atau kotamadya baru. Dengan kala lain, prosentase penduduk desa akan berkurang. Persoalannya, mampukah rakyat kecil di pedesaan maupun "kota-kota baru" mengimbangi situasi laju perkembangan modern dan menciptakan kemandirian diberbagai aspek kehidupan?
Dalam buku berjudul "Mewujudkan Kemandirian Keluarga Kurang Mampu" ini, penulis mencoba mengangkat kehidupan rakyat kecil, khususnya di desa-desa agar mampu membangun kembali desanya tanpa memiliki ketergantungan pada siapapun. Dengan semangat kemandirian dan gotong royong masyarakat, beban yang berat pun akan menjadi ringan.
Oleh:
Prof Dr Haryono Suyono
Buku Seri: Mewujudkan Kemandirian Keluarga Kurang Mampu (210 Halaman)
No ISBN : 979-3462-05-1
Penerbit : Yayasan Damandiri
Cetakan : I Mei 2003
Kata Pengantar (Prof.DR.Haryono Suyono ) :
Kata Sambutan(Meneg PP Republik Indonesia ) : DRA H SRI REDJEKI SUMARYOTO,SH
Bab I (PENDAHULUAN) : Pendahuluan Kemandirian Rakyat Kecil Membangun Desa
Upaya perjuangan dan pembangunan yang telah dilakukan oleh bangsa Indonesia, pemerintah dan masyarakat selama lebih dari lima puluh delapan tahun sungguh sangat luar biasa. Indonesia yang terdiri atas suku, agama dan latar belakang yang sangat berbeda-beda telah berhasil menjadi satu bangsa yang kuat dan bersatu dalam satu negara kesatuan Republik Indonesia.
Bab II ( Harapan Baru Membangun Kemandirian) : Harapan Baru Untuk Keluarga Tertinggal
Upaya pembangunan bertahap dan berkelanjutan dimasa lalu telah berhasil
menurunkan tingkat kemiskinan dari sekitar 60 persen pada awal tahun 1970-an
menjadi sekitar 11 persen pada akhir tahun 1996. Pada tahun 1990-an penurunan
jumlah dan prosentase penduduk miskin itu makin lambat. Pada awal krisis tahun
1997-1998 jumlah dan prosentase penduduk miskin itu meningkat kembali. Menurut
Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 1998 jumlah penduduk miskin sempat melonjak menjadi 49,5 juta atau 24 persen. Dengan intervensi yang gegap gempita oleh berbagai kalangan jumlah itu menurun kembali pada tahun 2000 menjadi 33,2
juta atau 16,07 persen.
Bab III ( Menanam Modal Untuk Mandiri ) : Lelang Kepedulian Untuk Pemberdayaan
Pada awal tahun sembilanpuluhan disepakati UU tentang Kependudukan dan Keluarga Sejahtera serta UU tentang Kesehatan.
Kedua UU itu segera diikuti dengan beberapa Peraturan Pemerintah yang mengatur kegiatan operasional bidang-bidang yang relevan.
Pada tahun itu pula Indonesia memainkan peran yang sangat penting dalam kancah dunia, baik dalam bidang kesehatan maupun dalam bidang KB. Namun mulai dirasakan bahwa para peserta yang sudah bertahun-tahun ber-KB yang dengan tuntunan para pengasuh dan pembinanya telah menjadi peserta KB yang setia belum merasakan keadaan yang lebih baik.
Bab IV (Komentar) : Prof Dr Ermaya Suradinata
Kemiskinan sesungguhnya merupakan masalah yang ada sejak lama dan hampir dapat dikatakan akan tetap menjadi kenyataan abadi dalam suatu kehidupan manusia. Pengertian kemiskinan sendiri sebagai suatu konsep ilmih lahir sebagai dampak timbulnya istilah pembangunan, oleh karena itu selama masa kemiskinan masih ada, pembangunan tetap dihadapkan pada tantangan untuk memperkaya dirinya dengan perangkat teori, analisis dan perumusan kebijaksanaan yang baru untuk menanggulanginya secara mandiri. Kemiskinan dan kesenjangan dengan berbagai terminologi lain serta perwujudannya merupakan dua sisi pada sekeping koin dalam konteks pembangunan setiap bangsa. Dapat dikatakan bahwa dua masalah ini merupakan tantangan yang harus diatasi secara serius.
Ir Hadi Sunarno
CA Aryanti PS
Dr Sri Hartati P Pandi MPH
Rini Suroyo
* (Riwayat Hidup) :
* (KLIPPING ):
* (Bahan Bacaan) :