
KITA tahu banyak remaja menjadi korban sia-sia dari pergulatan yang sesungguhnya mereka tidak perlu ikut serta. Remaja terkena serangan budaya "modern" berapa pergaulan bebas tanpa batas. Akibatnya. Virus HIV/AIDS yang semula hanya menyerang orang dewasa, pada waktu ini melanda generasi reraaja yang menganut pergaulan bebas dengan narkoba dan suntikannya.
Yayasan Damandiri, yang sangat peduli terhadap pemberdayaan dan peningkatan mutu anak bangsa, dan selama ini aktif membantu pemeriniah dalam upaya pengentasan kemiskinan, merasa sangat iba dan segera ikut membantu upaya mengatasi kemelut yang dihadapi anak bangsa tersebut. Bersama berbagai komponen pembangunan lainnya, pengurus yayasan merasa bahwa kegiatan pendidikan reproduksi remaja, yang di masa lalu selalu digalang dalara program keluarga berencana yang komprehensif, harus disegarkan dan dipraktekkan secara sungguh-sungguh oleh kalangan remaja yang makin banyak dan luas penyebarannya.
Oleh :
Prof Dr Haryono Suyono
Buku Induk Remaja Siap Membangun (327 Halaman)
No ISBN : 979-3462-06-X
Penerbit: Yayasan Damandiri
Cetakan : I Desember 2005
Bab 1 Menyiapkan SDM Siap Bekerja
Dalam banyak hal, dibandingkan banyak negara berkembang lainnya, Indonesia termasuk salah satu negara yang beruntung. Selama tigapuluh tahun ini keadaan relatif aman, tidak ada peperangan yang dahsyat, hanya di beberapa tempat ada gangguan yang segera dapat diselesaikan. Pemerintah dan seluruh masyarakat mempunyai kesempatan untuk memperbaiki kondisi anak-anak. Orang tua telah dipersenjatai dengan kemampuan mengatur kelahiran dan jumlah anak melalui program kesehatan dan K6 dengan pelayanan yang tersedia hampir di seluruh pelosok.
Bab 2 Mempersiapkan Remaja Siap Kerja
Sejak pertengahan Juli 2003 lalu, para remaja, anak-anak SMA dan sederajat di wilayah Malang dan Wonogiri mendapat perhatian khusus dari Gubernur, Wakil Gubernur, Bupati dan berbagai pimpinan Universitas yang bergabung dalam aliansi Lembaga Indonesia untuk Pengembangan Manusia (LIPM). Peristiwa itu membarengi masuknya kembali anak-anak remaja itu ke sekolah masing-masing setelah mendapat liburan akhir tahun pelajaran yang cukup menegangkan. Sebelumnya mereka diharuskan lulus dengan angka rata-rata yang tinggi dan karenanya sempat menimbulkan kontroversi yang cukup menarik.
Bab 3 Membangun Generasi Muda Berwatak
Himpunan Pandu dan Pramuka Wreda (Hipprada) atau lebih dikenal sebagai himpunan pandu dan pramuka dewasa, yaitu yang pandu atau anggota pramuka yang usianya sudah mencapai 25 tahun atau lebih, dan berasal dari seluruh Indonesia. Himpunan ini dirintis oleh Bapak Pandu atau Gerakan Pramuka Indonesia, almarhum Sri Sultan Hamengkubowono IX, pada tahun 1975. Hipprada adalah himpunan pandu dan pramuka, yang biarpun usianya sudah lanjut tetapi tetap ingin melanjutkan cita-cita Bapak Pandu se
dunia, membantu mewujudkan generasi muda yang bermutu, berwatak, mempunyai kemampuan kepemimpinan yang tinggi, mandiri, dan berbudaya. Suatu generasi muda yang dengan landasan sistem nilai, watak dan sikap itu, siap dan mampu menggalang solidaritas untuk membangun dunia masa depan yang lebih aman, damai dan sejahtera.
Bab 4 Merancang Indonesia Bangkit
Dalam menyongsong Hari Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei 2005 ada baiknya kita renung apa yang pernah disampaikan oleh sesepuh bangsa. Ki Hajar Dewantara, sesepuh
bangsa yang sangat peduli terhadap masalah pendidikan, pada Kongres Permufakatan Persatuan Pergerakan Kebangsaan Indonesia (PPPKI) tanggal 31 Agustus 1928 di Surabaya menyatakan bahwa: kekuatan rakyat itulahjumlah kekuatan tiap-tiap anggota dari rakyat. Segala daya upaya untuk menjunjung derajat bangsa tak akan berhasil kalau tidak dimulai dari bawah. Sebaliknya rakyatyang sudah kuat, akanpandai melakukan segala usaha yang perlu atau berguna untuk kemakmuran negeri. Selanjutnya Ki Hajar Dewantara menyatakan: mendidik anak itulah mendidik rakyat. D&npengajaran nasional
adalah pengajaran yang selaras dengan penghidupan bangsa (maatschappelijk) dan kehidupan bangsa (cultureel).
Bab 5 Menyanyi Untuk Pendidikan
Salah satu hasil Sidang Khusus P66 tentang Anak di New York tanggal 8-10 Mei 2002, yang menonjol adalah perhatian yang tinggi terhadap anak-anak dan ibu yang menjadi korban perang. Namun segera sesudah itu peperangan yang maha dahsyat di Irak tidak dapat dihindarkan. Tentu peperangan ini akan menghasilkan akibat yang sangat memprihatinkan terhadap anak-anak, remaja dan kaum ibu. Mereka akan mengalami gangguan kesehatan, sekolah terpaksa diliburkan, dan masa depan diliputi trauma
yang tidak mudah dihilangkan. Anak-anak itu, seperti halnya anak-anak di medan pertempuran lainnya, mempunyai penderitaan berkepanjangan yang tidak mudah diselesaikan.