
Dari masa yang tidak terlalu panjang, tidak sedikit kesimpulan tentang kegiatan yayasan ini yang bisa ditorehkan. Dari apa yang diuraikan dalam buku ini ada esensi yang paling penting untuk dicatat tentang kepedulian yayasan ini menanggulangi kemiskinan. Ihwal eksistensi Yayasan Damandiri sebagai sebuah lembaga non-pemerintah tanpa gembar gembor, aktif menyelenggarakan program-program pemberdayaan masyarakat miskin. Disini, ada sebuah keunikan yang melekat pada yayasan ini. Tatkala didirikan pada awal tahun 1996, organisasi ini secara resmi bersifat swasta nirlaba, namun juga tak bisa dipungkiri, bahwa ketika itu ia mempunyai kelekatan yang kuat dengan atau bahkan terkesan sebagai “bagian” dari pemerintah.
Judul Buku: Menyemai Harapan Menuju Sejahtera (146 Halaman)
Penyusun: LP3ES Jakarta
Penerbit : Yayasan Dana Sejahtera Mandiri
Damandiri 2006
Kata Sambutan Ketua Badan Pendiri Yayasan Dana Sejahtera
Buku "10 TAHUN YAYASAN DAMANDIRI" yang diterbitkan dalam rangka memper-ingati satu dasawarsa usia Yayasan ini, saya sambut dengan gembira. Buku ini juga saya nilai penting untuk diketahui, tidak saja oleb mereka yang ikut mendirikan atau oleh mereka yang pernah memberikan bantuan kepada Yayasan irti, tetapi juga oleh mereka yang pernah memperoleh bantuan dan bahkan oleh masyarakat luas. Dengan membaca buku ini, maka mereka yang ikut mendirikan atau memberikan bantuannya akan mengetahui pemanfaatan bantuan yang mereka berikan. Bagi mereka yang pernah mendapatkan bantuan akan mengetahui tujuan dari pemberian bantuan yang mereka terima dan masyarakat akan mengetahui kiprah perjuangan Yayasan ini dalam upaya membantu pemberdayaan sumber daya manusia dan meningkatkan
Sekapur Sirih
Sepuluh tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 15 Januari 1996, Presiden HM Soeharto, selaku pribadi, bersama beberapa tokoh nasional dan pengusaha nasional yang peduli terhadap upaya pengentasan kemiskinan di Tanah Air, sepakat men-dirikan sebuah yayasan yang kemudian diberi nama Yayasan Dana Sejahtera Mandiri atau Damandiri. Para pendiri dan pengurus Yayasan serta para simpatisan dengan segera menyumbangkan dana untuk modal Yayasan guna mengikuti ajakan pemerintah mengambil bagian dalam upaya penanggulangan kemiskinan di Tanah Air.
Pendahuluan: Sebuah Prakarsa
Bagi manusia secara alamiah, menginjak usia 10 tahun jelas berarti sedang berada pada masa kanak-kanak, masih beberapa tahun lagi untuk memasuki masa remaja dan pemuda, serta membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk menjadi dewasa dan tua. Akan tetapi, bagi organisasi, umur 10 tahun atau satu dasawarsa dapat mengandung makna yang berbeda. Dalam teori cor porate life cycle misalnya, sebuah organisasi dapat dinilai telah cukup mapan atau "dewasa", meskipun usianya masih muda.
Bab 1: Menengok Makna Kemiskinan
Sepanjang 10 tahun Yayasan Damandiri berkiprah, inti dari program-program yang dijalankannya adalah ikut serta menanggulangi kemiskinan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Hal itulah memang yang menjadi motivasi dasar didirikannya yasasan ini. Sebab, bagi Indonesia, kemiskinan adalah sebuah realitas dan merupakan masalah besar yang harus dipecahkan dengan tindakan-tindakan nyata.
Bab 2: Memberdayakan Keluarga, Membangun
Turut berperan serta bersama pemerintah dan masyarakat dalam membangun keluarga-keluarga Indonesia agar dapat berperan sebagai subyek pembangunan yang handal Menggali, menerima dan mengelola sumber dana yang dapat digunakan untuk meningkatkan kuali tas sumber daya manusia, khususnya bagi keluarga prasejahtera dan keluarga sejahtera I. " Demikian bunyi kalimat berkenaan dengan misi yang dijalankan oleh Yayasan Damandiri.
Bab 3: Pendidikan dan Kesehatan: Menuju SDM Berkualitas
Pendidikan dan kesehatan adalah dua unsur penting bagi manusia untuk men-jadi sejahtera dan mandiri. Sehat menopang tubuh untuk dapat aktif dan berkarya. Dengan modal pendidikan, manusia memperoleh pengetahuan sehingga memiliki kesempatan lebih besar untuk meraih peluang kemajuan. Tingkat pendidikan yang rendah dan kesehatan yang tak memadai meru-pakan salah satu kelemahan yang terdapat di kalangan keluarga-keluarga miskin, termasuk keluarga miskin di Indonesia: Keluarga Prasejahtera dan Keluarga Sejahtera I.
Bab 4: Membangkitkan Usaha Ekonomi Produktif
Sudah merupakan aksioma bahwa pemberdayaan masyarakat miskin termasuk pembinaan usaha ekonomi produktif akan berhasil, bila ia dijalankan secara berkelanjutan. Ini dilakukan dengan, antara lain, mengupayakan program-program yang senantiasa antisipatif terhadap setiap perubahan yang terjadi dan makin memperkuat kemandirian kelompok masyarakat miskin yang menjadi sasaran. Tidak terkecuali, program Setelah berjalan beberapa tahun, pada akhir tahun 2002 jumlah peserta Takesra mencapai lebih dari 11 juta keluarga.
Bab 5: Menggandeng Mitra, Merajut Jaringan
Dalam menjalankan semua program-program pemberdayaan masyarakat miskin, sepanjang 10 tahun usianya, Yayasan Damandiri menjalin hubungan dan melakukan kerja sama dengan banyak pihak. Mereka berperan sebagai rekan yang memiliki misi dan tujuan yang sama; sebagai pendukung guna kelancaran jalannya program sebagai mitra kerja dalam pengelolaan dan pelaksanaan program atau pun sebagai pihak yang menjadi sasaran program dan para penerima bantuan itu sendiri.
Bab 6: Percik-percik Pandangan
Banyak orang yang mengetahui atau pernah berhubungan atau terlibat dalam kerja sama dengan Yayasan Damandiri. Mereka mem-punyai kesan-kesan dan pendapat tentang apa yang telah dijalankan oleh yayasan ini. Mereka juga memiliki pandangan tentang masalah penanggulangan kemiskinan, hal yang erat terkait dengan misi Yayasan Damandiri. Maka, di sini, serba-serbi pandangan dari sejumlah orang diketengahkan guna ikut mewarnai catatan perjalanan yayasan yang telah berusia 10 tahun itu.
Penutup:Tantangan Hari Esok
Masyarakat Indonesia, tidak hanya di perkotaan namun juga di perdesaan, tengah mengalami perubahan sifat dari tradi sional menjadi "urban yang metropolitan". Seiring dengan itu, terjadi pula perubahan dalam tatanan pemerintahan, yakni dari sentralistik menjadi desentralistik, hal yang erat kaitannya dengan proses demokratisasi. Dalam situasi demikian, warga masyarakat diharapkan untuk mengatur sendiri apa yang terbaik bagi keluarga dan diri mereka. Sementara itu, kreasi-kreasi potensial masyarakat agaknya harus lebih banyak digali guna peningkatan kesejahteraan mereka. Situasi kependudukan sebagaimana digambarkan di atas, langsung atau tak langsung akan ikut mewarnai persoalan kemiskinan di masa datang. Perubahan "wajah" penduduk Indonesia itu sedikit banyak akan membawa tuntutan-tuntutan baru terhadap strategi, pendekatan dan sasaran program-program pengentasan masyarakat dari kemiskinan