
Pembangunan manusia akan sangat efektif apabila dapat dilakukan dalam lembaga keluarga. Keluarga adalah lembaga utama, yang terdekat dan paling akrab dengan setiap anggotanya, juga merupakan lembaga terkecil dalam masyarakat. Keluarga yang bermutu dan kuat akan menjadi wahana pembangunan bangsa yang sangat efektif.
Karena itu diperlukan dukungan pemberdayaan, pelayanan paripurna dan dinamik agar setiap keluarga dapat melaksanakan fungsi-fungsi utamanya dengan baik untuk membangun seluruh anggotanya. Apabila seluruh keluarga dapat membangun anak-anaknya dengan baik, maka seluruh anak bangsa akan dapat dikembangkan menjadi sumber daya manusia yang beriman, bermutu, handal dan sanggup membangun negara dan bangsanya dengan baik.
Karena sifat pemberdayaan keluarga harus paripurna, maka penyegaran Posyandu dengan pengertian sebagai lembaga pelayanan terpadu KB dan Kesehatan dianggap tidak cukup. Perlu dikembangkan lembaga pemberdayaan dalam masyarakat, oleh masyarakat dan menjadi milik atau kebanggaan masyarakat. Lembaga ini harus bisa menampung berbagai masukan untuk mengembangkan keluarga agar mampu melaksanakan delapan fungsi utamanya. Lembaga ini adalah Pos Pemberdayaan Keluarga atau Posdaya. Posdaya merupakan wahana pemberdayaan 8 fungsi keluarga secara terpadu, utamanya fungsi agama atau ketuhanan yang maha esa, fungsi budaya, fungsi cinta kasih, fungsi perlindungan, fungsi reproduksi dan kesehatan, fungsi pendidikan, fungsi ekonomi atau wirausaha dan fungsi lingkungan.
Judul Buku: POSDAYA ALIANSI BANGUN ANAK BANGSA (583 Halaman)
Oleh : Prof Dr Haryono Suyono
Penerbit Yayasan Damandiri
Damandiri 2007
BAB 1 PENDAHULUAN
MENYAMBUT SERUAN PRESIDEN UNTUK REVITALISASI POSYANDU
PADA akhir bulan Nopember 2006 Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, telah menutup Kongres Pembangunan Manusia Indonesia 2006 di Jakarta. Kongres ini merupakan serangkaian Konperensi yang telah diadakan di beberapa propinsi sebagai wujud komitmen pemerintah Indonesia dalam pembangunan manusia di Indonesia. Pada peristiwa itu Presiden RI sangat mengkhawatirkan pertumbuhan penduduk yang meningkat melebihi angka pertumbuhan 1,3 persen setahunnya. Karena kekhawatiran itu Presiden memerintahkan agar program KB direvitalisasi dan dikembangkan seperti di masa-masa yang lalu.
BAB 2 BANGKIT MELAWAN PEMISKINAN
MENYONGSONG INDONESIA BANGKIT
PADA peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke 58. Para sesepuh, pejabat dan ahli yang selama ini berkecimpung dalam bidang kependudukan telah bertemu di Jakarta. Mereka merasakan adanya Agenda Kependudukan yang terlupakan. Mereka sangat mengetahui bahwa penanganan masalah kependudukan di masa lalu sudah berhasil dengan baik.
Kondisi ini terlihat dari tingkat fertilitas yang menurun tajam, tingkat mortalitas menurun secara signifikan, dan pertumbuhan penduduk tidak lagi menjadi bayangan yang menakutkan. Para ahli dan pejabat ekonomi mengetahui bahwa bila pertumbuhan penduduk tidak terkontrol, pertumbuhan ekonomi bakal tertelan habis oleh pertumbuhan penduduk.
BIDAN MANDIRI SEBAGAI UJUNG TOMBAK POSYANDU
BEBERAPA waktu lalu para bidan dan sukarelawan pejuang kaum wanita berkumpul di Bali, dengan prakarsa Yayasan Damandiri, Yayasan Indra, Lembaga Indonesia untuk Pengembangan Manusia, Unair, Institute Pertanian Bogor (ITB), Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Bank Pembangunan Daerah (BPD), Bank Bukopin serta Bank Syariah Mandiri diselenggarakan pertemuan dengan para bidan dan pimpinan perguruan tinggi terpilih untuk mengembangkan strategi mendukung upaya menurunkan tingkat kematian ibu hamil dan melahirkan, meningkatkan kualitas bidan, serta sekaligus membangun keluarga bahagia dan sejahtera. Pertemuan itu dilanjutkan dengan pertemuan regional Aliansi Pita Putih Indonesia (APPI) dan juga lokakarya dengan topik serupa, yang dihadiri oleh utusan dari wilayah Asia dan Pasifik.
Maksimalkan TP PKK untuk Kelola Posyandu
Reportase Majalah Gemari Edisi 56/VJ/2005
MASALAH pos pelayanan terpadu atau dikenal dengan Posyandu, kembali menyeruak. Padahal sebelum era reformasi kegiatan posyandu yang bertujuan memberikan akses bagi pelayanan kesehatan masayarakat, terutama bayi, anak balita, ibu hamil dan menyusui sudah berjalan baik dan dinilai mantap. Tapi ada apa dengan posyandu kita belakangan ini? Sejauh mana kepedulian dari Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) yang memliki jaringan sangat luas?
Kalsel Bergiat Posyardu Plus
Reportase Majalah Gemari Edisi 63/VIT/2006
BETAPA pentingnya pos pelayanan terpadu (Posyandu) di Indonesia dalam membantu memberikan penguatan dasar baik kesehatan ibu dan anak sebagai wujud pembangunan sumber daya manusia. Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) juga berkomitmen menggiatkan Posyandu di wilayah Propinsi Kalsel melalui roadshow.
BAB 3 MEMBANGUN POSYANDU MANDIRI
UNTUK menghadapi tantangan globalisasi dengan pameran kehidupan yang Dmodernn dan Dindividualistikn diperlukan upaya untuk membangkitkan kembali rasa persatuan dan kesatuan yang diarahkan untuk saling peduli terhadap sesama anak bangsa. Upaya itu nampaknya tidak bisa hanya berupa wacana dan anjuran, tetapi harus dimunculkan dengan contoh-contoh nyata yang bisa dengan mudah ditiru dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu upaya tersebut adalah dengan mengikuti anjuran Presiden SBY untuk menyegarkan kembali kehidupan gotong royong di tingkat pedesaan berupa contoh-contoh nyata yang bisa dilakukan dengan mudah, bersama-sama oleh organisasi dan para pemimpin di pedesaan.
Pembentukan Keluarga Tangguh dan Pentingnya Kebersamaan
Reportase Majalah Gemari Edisi 67/VIJ/2006
PADA peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-XIII tahun 2006 di Bogor, Jawa Barat, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono kembali menegaskan pentingnya membentuk keluarga berkualitas. Pemeo “banyak anak banyak rezeki” sudah tidak tepat lagi untuk kondisi saat ini. Pertumbuhan penduduk yang terus bertambah dengan laju cukup tinggi, akan sangat berat kemampuan ekonomi nasional untuk mendukungnya.
BAB 4 MEMBANGUN ALIANSI UNTUK PEMBERDAYAAN
MENJAMIN ANAK DESA BERTAMBAH CERDAS
UNTUK kedua kalinya, Yayasan Damandiri bekerja sama dengan Klub Perpustakaan Indonesia (KPI) yang dipimpin Ibu Dra. Adwityani Subagio, SH menyelenggarakan pelatihan penataan dan pengembangan Perpustakaan Sekolah berbasis masyarakat. Kali ini adalah para pengelola perpustakaan SMA di kawasan Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan Jawa Timur. Perpustakaan Sekolah Berbasis Masyarakat adalah perpustakaan yang bisa sekaligus melayani masyarakat di sekitarnya.
PENGURUS BKKS PROVINSI DIKUKUHKAN
Reportase HU Pelita Swadaya Mandiri 13 April 2007
Pengurus Badan Kordinasi Kesejahteraan Sosial (BKKS) Provinsi Lampung periode 2007-2012 dikukuhkan Gubernur Lampung Sjachroedin ZP di balai Keaton, belum lama ini. Pengukuhan dihadiri oleh Ketua Dewan Nasional Indonesia Untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) Prof Dr Haryono Suyono.
MEMBANGUN ALIANSI UNTUK PEMBERDAYAAN
Menurut rencana selasa, 13 Febuari nant, para pemimpin Muslim dari seluruh Dunia akan bertemu di Bali untuk membicarakan dukungan pemimpin dan umat Islam seluruh dunia dalam menempatkan manusia sebagai titik sentral pembangunan. Pertemuan ini digagas untuk memanfaatkan momentum dunia yang sepakat untuk menggerakan dalam kerangka Millenium Development Goals (MDG’s) yang secara eksplisit mempunyai tujuan untuk mengentaskan kemiskinan, melalui peningkatan keluarga kurang mampu terhadap akses bidang kesehatan, pendidikan dan kesempatan usaha yang bisa memberi nilai tambah untuk membangun keluarga sejahtera.
BAB 5 KOMENTAR
Dr Sugiri Syarief,
Kepala BKKBN Pusat
Posdaya Sebagai Wahana Pemberdayaan Masyarakat
PROF Dr H Haryono Suyono adalah sosok yang saya kagumi. Konsep Posdaya yang digulirkan ke masyarakat merupakan salah satu bukti kesetiaan beliau menyejahterakan keluarga-keluarga Indonesia. Walau secara formal sudah tidak lagi menjabat di dalam pemerintahan, perhatian beliau masih tetap besar terhadap upaya pemberdayaan rakyat kecil. Ide mengalir seolah-olah tidak akan pernah kering. Kegigihan beliau memperjuangkan rakyat kecil tidak tertandingi oleh siapapun. Begitu menghadapi tembok besar dalam memperjuangkan rakyat kecil, solusi berikutnya selalu muncul. Sungguh, beliau sangat kaya dengan ide-ide yang berpihak kepada rakyat kecil.
RIWAYAT HIDUP PENULIS
PROF Dr H Haryono Suyono dilahirkan di Pacitan, Jawa Timur pada tanggal 6 Mei 1938. Semasa kecilnya, Haryono diasuh kedua orang tuanya, Bapak Alimoeso dan Ibu Padmirah Alimoeso. Ayahnya adalah seorang guru SD yang kemudian berpindah-pindah dari satu desa pegunungan ke desa pegunungan lainnya di kawasan kabupaten Pacitan. Karena itu, Haryono semasa kecilnya banyak diasuh oleh ibunya yang ulet, Ny. Padmirah, yang mendidik anak-anaknya kerja keras dengan membuka warung kecil keperluan sehari-hari bagi keluarga sekitarnya di rumahnya di Pucang Sewu, Pacitan.
KLIPPING
BAHAN BACAAN
END