
Secara umum penelitian ini mencoba meneliti implementasi, mekanisme, bentuk dan hasil pendekatan dalam RBM dalam memberdayakan penyandang cacat dengan memanfaatkan potensi dan sumberdaya yang tersedia di masyarakat yang dirinci dalam tujuan penelitian sebagai berikut :
-Memberikan gambaran mengenai latar belakang dan karakteristik kecacatan penyandang cacat.
-Mendeskripsikan kondisi ketidakberdayaan yang dihadapi penyandang cacat.
-Mendeskripsikan pelaksanaan pemberdayaan penyandang cacat yang dilakukan di dalam keluarga dan masyarakat.
Oleh:
ETTY PAPAYUNGAN
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASAR
2006
COVER
ABSTRAK
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Indonesia dalam melaksanakan pembangunan nasionalnya selalu dilandasi oleh tujuan untuk penciptaan keadilan dan kemampuan bagi seluruh rakyat. Penciptaan tujuan dimaksud diwujudkan melalui berbagai proses pembangunan di segala bidang yang saling terkait dan saling menunjang satu sama lain sebagai bagian dari pembangunan nasional. Salah satu diantaranya adalah “Pembangunan Kesejahteraan Sosial”.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Pemahaman Pemberdayaan terhadap Penyandang Cacat melalui Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat
Pengertian dan kategori penyandang cacat
Coleridge melalui WHO mengemukakan defenisi kecacatan yang berbasis pada model sosial sebagai berikut :
Impairment (kerusakan/kelemahan): Ketidaklengkapan atau ketidaknormalan yang disertai akibatnya terhadap fungsi tertentu. Misalnya, kelumpuhan di bagian bawah tubuh disertai ketidakmampuan untuk berjalan dengan kedua kaki.
Disability/handicap (cacat/ketidakmampuan): adalah Kerugian/ keterbatasan dalam aktivitas tertentu sebagai akibat faktor-faktor sosial yang hanya sedikit atau sama sekali tidak memperhitungkan orang-orang yang menyandang "kerusakan/ kelemahan" tertentu dan karenanya mengeluarkan orang-orang itu dari arus aktivitas sosial. (1997:132)
Proses Pemberdayaan
BAB III METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini berlangsung selama dua bulan yaitu pada bulan Juli hingga bulan September tahun 2006. Lokasi penelitian yaitu Kabupaten Tanatoraja. Penunjukan wilayah tersebut sebagai lokasi penelitian didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :
Wilayah tersebut merupakan lokasi tempat pembinaan penyandang cacat yang penanganannya dilakukan oleh kelompok masyarakat.
Wilayah ini merupakan salah satu pusat pembinaan penyandang cacat dengan model baru di Sulawesi Selatan.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Kondisi Umum dan Geografis
Tana Toraja sebuah nama daerah dengan status Daerah Tingkat II di kawasan Provinsi Sulawesi Selatan, terbentang mulai dari Kilometer 280 sampai dengan Kilometer 355 dari sebelah utara ibukota Provinsi Sulawesi Selatan (Makassar.) Tepatnya pada 2° - 3° LS dan 199° - 120° BT, dengan luas sekitar 3.205,77 Km2 atau sekitar 5% dari luas Provinsi Sulawesi Selatan.
Tana Toraja berbatasan dengan wilayah:
Sebelah utara: Kabupaten Mamuju dan Kab. Luwu
Sebelah timur: Kab. Luwu
Sebelah Selatan: Kab. Enrekang dan Kab. Pinrang
Sebelah Barat: Kab. Polewali Mamasa
PEMBAHASAN
Berdasarkan gambaran hasil penelitian yang telah diuraikan pada bab empat diatas, maka dari fakta-fakta atau hasil penelitian tersebut selanjutnya dilakukan pembahasan berdasarkan kerangka pemikiran yang digunakan. Untuk mempermudah dalam pembahasan maka, peneliti mengelompokkan keadaan point-point sebagai berikut :
Penyandang cacat dan ketidakberdayaan yang dihadapi.
Berdasarkan hasil penelitian tentang latar belakang dan Kondisi ketidakberdayaan yang dialami oleh peyandang cacat, terlihat adanya keadaan yang dihadapi sebagai dampak dari kecacatan baik yang dirasakan oleh penyandang cacat, keluarga dan masyarakat. Penyandang cacat dalam konsep yang dikemukakan oleh Ife (bab 2, hal 54-56), merupakan kelompok yang mengalami ketidakberdayaan yang termasuk kedalam other disadvantage yaitu kelompok lemah/kurang beruntung secara khusus. Kelompok ini timbul disebabkan karena dua hal yaitu pertama permasalahan ketidakberuntungan sebagai permasalahan individu yang bersumber dari individu itu sendiri, meliputi patologi individu seperti manula, anak da remaja, penyandang cacat, gay, lesbian, dan suku terasing (Individual perspective). Sebab kedua, permasalahan ketidakberdayaan sebagai akibat dari pandangan yang lebih memusatkan pada pengalaman subjektif terhadap power daripada eksistensi objektifnya, dengan mekanisme pengendalian yang utama memusatkan pada ide-ide, bahasa dan penjelasan pengetahuan yang digunakan. Dalam perspektif ini (Post structural perspective) permasalahan penyandang cacat tidak dilihat secara objektif tapi lebih kepada pemahaman-pemahaman subjektif, sehingga upaya penumbuhan kemampuan kurang mendukung kebutuhan sebenarnya yang diharapkan penyandang cacat. Penggunaan berbagai istilah bagi penyandang cacat lebih mengarah kepada diskriminasi dan penempatan penyandang cacat sebagai sumberdaya yang tidak produktif, semakin mengarah kepada Kondisi ketidakberdayaan penyandang cacat.
KESIMPULAN DAN SARAN
Latar belakang kecacatan yang dihadapi informan penyandang cacat disebabkan karena sejak lahir (informan Rs, Sn, Rc, An, dan Jr) dan diluar kelahiran yang disebabkan karena kecelakaan (Mk), penyakit (informan Lt) Kondisi kecacatan yang dihadapi selanjutnya menghadirkan tantangan, hambatan dan gangguan didalam pencapaian tugas-tugas kehidupan penyandang cacat.
DAFTAR PUSTAKA