
Ayam dalam kondisi normal memproduksi radikal bebas (prooksidan) sebagai proses fisiologis yang seimbang dengan antioksidan endogen yang tersedia. Infeksi Marek’s disease virus(MDV) onkogenik pada ayam diawali sitolisis pada limfosit B dan limfosit T, ayam memberikan responss imun yang didahului oleh responss imun nonspesifik, yaitu fagositosis oleh mekrofag dan neutrofil yang menghasilkan bahan penghancur mikroorganisme patogen berupa peningkatan produksi radikal bebas yang memiliki efek samping, yaitu kerusakan molekul-molekul pada sel sehingga menimbulkan sitolisis termasuk pada limfosit B dan limfosit T. Radikal bebas merupakan bahan karsinogen yang menimbulkan mutasi gen sehingga dapat menginduksi terjadinya kanker. Virus penyebab tumor disebut virus onkogen dan gen yang ada pada virus disebut viral oncogen (V-onc) yang homolog dengan sekuen DNA pada gen seluler inang, yaitu proto oncogen (C-onc) yang dapat berinteraksi dengan gen virus. Terjadinya transformasi pada gen seluler inang oleh gen virus bergantung pada resistensi seluler inang, virulensi virus penyebab, dan kehadiran substansi kimia penyebab tumor, yaitu bahan karsinogen yang menginduksi terjadinya mutasi.
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh ekstrak benalu teh Scurrula oortiana terhadap fenomena imunologis dan risiko kanker pada ayam yang diinfeksi virusherpes MDV onkogenik, sedangkan secara khusus tujuan penelitian ini adalah: pembuktian secara ilmiah khasiat eksstrak S. oortiana sebagai imunomodulator dan mengurangi risiko kanker, menggunakan parameter imunologi. Menjadikan benalu teh S. oortiana sebagai obat herbal berstandar.
Oleh:
MUHAMAD SAMSI
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2007
COVER
Prakata
Ringkasan
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Neoplasma atau tumor adalah transformasi sejumlah gen yang menyebabkan gen tersebut mengalami mutasi. Gen yang mengalami mutasi disebut proto-onkogen dan gen supresor tumor, yang dapat menimbulkan abnormalitas pada sel somatik. Usia sel normal ada batasnya, sementara sel tumor tidak mengalami kematian sehingga multiplikasi dan pertumbuhan sel berlangsung tanpa kendali. Sel neoplasma mengalami perubahan morfologi, fungsi, dan siklus pertumbuhan, yang akhirnya menimbulkan disintegrasi dan hilangnya komunikasi antarsel. Tumor diklasifikasikan sebagai benigna, yaitu kejadian neoplasma yang bersifat jinak dan tidak menyebar ke jaringan di sekitarnya. Sebaliknya, maligna disinonimkan sebagai tumor yang melakukan metastasis, yaitu menyebar dan menyerang jaringan lain.
Tujuan Penelitian
TINJAUAN PUSTAKA
Resistensi dan pemulihan pada infeksi virus bergantung pada interaksi antara virus dan inangnya. Pertahanan inang bekerja langsung pada virus atau secara tidak langsung pada replikasi virus untuk merusak atau membunuh sel yang terinfeksi. Fungsi pertahanan nonspesifik inang pada awal infeksi untuk menghancurkan virus adalah mencegah atau mengendalikan infeksi, kemudian adanya fungsi pertahanan spesifik dari inang termasuk pada infeksi virus bervariasi bergantung pada virulensi virus, dosis infeksi, dan jalur masuknya infeksi (Mayer 2003).
Produksi Panas Hewan Dalam Kandang
Suhu Efektif
Pengaruh Suhu dan Kelembaban Udara Terhadap Sapi Perah FH
Pindah Panas dan Massa pada Kandang Sapi Perah FH
Distribusi Suhu dan RH pada Kandang Sapi Perah FH
Ventilasi
Efek Angin dan Efek Termal
Computational Fluid Dynamics (CFD)
Simulasi
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di kandang percobaan unggas Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. Pengamatan efek perubahan patologis dilaksanakan di Laboratorium Patologi FKH-IPB. Penghitungan jumlah leukosit dan deferensiasi leukosit dilakukan di Laboratorium Fisiologi FKH-IPB. Pemeriksaan antibodi Marek dengan metode ELISA dilaksanakan di Laboratorium terpadu FKH-IPB. Penelitian dimulai bulan Mei 2004 sampai dengan Agustus 2006.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penentuan Dosis Infeksi MDV
Pengamatan histopatologi dilakukan terhadap lima kelompok perlakuan, yaitu kontrol (A), 1 x 103 EID50 (B), 0.5 x 103 EID50 (C), 0.25 x 103 EID50 (D) dan 0.125 x 103 EID50 (E). Evaluasi dilakukan secara kualitatif dengan tujuan untuk memperoleh dosis yang tepat untuk uji tantang yang akan digunakan pada tahap penelitian selanjutnya. Adapun waktu pengamatan adalah 20 dan 40 hari pascainfeksi (p.i.), dan organ yang dievaluasi di antaranya hati, limpa, proventrikulus, bursa Fabricius dan paru-paru. Pengamatan khusus dilakukan dengan menghitung jumlah sel-sel neoplasma (limfoblast dan limfosit) dengan memberikan nilai sebagai berikut :
+ : jumlah sel-sel limfoid kurang dari 50 dalam satu kelompok
++ : jumlah sel-sel limfoid 51 - 100 dalam satu kelompok
+++ : jumlah sel-sel limfoid lebih dari 100 dalam satu kelompok.
PEMBAHASAN UMUM
Pada infeksi produktif MDV terjadi replikasi DNA virus, sintesis protein yang menghasilkan partikel virus secara lengkap. Virus menginfeksi, merusak, dan membunuh limfosit B maupun limfosit T. Selama infeksi, terjadi sitolisis sehingga pada puncak replikasi virus terjadi imunosupresi dan peningkatan sensitivitas inang pada infeksi bersamaan dengan turunnya bobot relatif bursa Fabricius dan timus (Payne dan Venugopal 2000, Islam et al. 2002).
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan diketahui ada interaksi antara pemberian ekstrak benalu teh Scurrula oortiana dengan perkembangan (uji tantang) infeksi Marek Disease Virus (MDV) onkogenik pada ayam petelur:
Infeksi (uji tantang) MDV onkogenik dengan dosis 1.0 X 103 TCID50 pada ayam ras petelur betina menimbulkan imunosupresi pada 20 hari pascainfeksi (p.i.) dan terjadi pemulihan menjadi normal pada 40 hari p.i.; berdasarkan bobot relatif bursa Fabricius dan timus serta ukuran diameter folikel bursa Fabricius. Infeksi MDV mampu menimbulkan neoplasma pada 20 hari p.i dan terjadi peningkatan patogenitas berdasarkan jumlah limfosit yang ditemukan pada proventrikulus dan organ hati 40 hari p.i.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Rataan bobot relatif bursa Fabricius, timus, dan limpa 20 hari p.i
Rataan bobot relatif bursa Fabricius, timus, dan limpa 40 hari p.i
Rataan diameter folikel bursa Fabricius (¦m) ayam 20 dan 40
Hari pascainfeksi (p.i.)
Rataan jumlah reaksi positif iNOS pada hati ayam 20 hari Pascainfeksi (p.i.)
Rataan nilai absorbansi uji ELISA berdasarkan perbedaan Perlakuan
Rataan nilai absorbansi berdasarkan waktu pascainfeksi (p.i.) MDV
Rataan jumlah leukosit per mililiter dan persentase limfosit(%) Pada ayam 20 hari pascainfeksi
Rataan jumlah leukosit per mililiter dan proporsi limfosit (%) Pada ayam 40 pascainfeksi (p.i)
Rataan jumlah limfosit submukosa proventriculus 20 hari Dan 40 hari pascainfeksi (p.i)
Hubungan keterkaitan MDV, ayam sebagai inang, dan eksktrak benalu teh sebagai antioksidan eksogen
Mekanisme secara umum sistem imun
Kemungkinan skenario pada ketidakseimbangan ROS
Senyawa flavonoid
Senyawa fenol
Diagram alir penelitian
Fotomikkrograf hati ayam yang diinfeksi MDV dosis 0,125 x 103EID50 pewarnaan Hematoksilin-Eosin (HE)
Fotomikkrograf hati ayam yang diinfeksi MDV dosis 0,125 x 103EID50 pewarnaan Hematoksilin-Eosin (HE).
Fotomikrograf hati ayam yang diwarnai secara imunohistokimia terhadap iNOS metode sab dan counterstain hematoksilin
Grafik rataan nilai absorbansi titer antibodi MDV uji ELISA
10, 20, dan 30 hari pascainfeksi
Fotomikrograf bursa Fabricius ayam yang diwarnai secara imunohistokimia terhadap MDV, metode SAB dan counterstain Hematoksilin
Fotomikrograf hati ayam dengan pewarnaan hematoksilin-Eosin (HE)