
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan pengaruh pemberian susu berkalsium tinggi dan susu segar pada kadar kalsium darah dan kepadatan tulang remaja pria. Kepadatan tulang yang diukur meliputi kepadatan tulang pinggang, punggung, kepala, lengan, rusuk, panggul dan kaki.
Penelitian dilaksanakan bertempat di Asrama Putra TPB IPB. Analisis darah dilakukan di Laboratorium SEAMEO TROPMED FK-UI Jakarta dan Laboratorium PMI Bogor, sedangkan pengukuran kepadatan tulang dilakukan di Unit Densitometry Klinik Teratai RSCM Jakarta. Kepadatan tulang yang diukur meliputi tulang bagian pinggang, punggung, kepala, lengan, rusuk, panggul dan kaki. Unit percobaan yang digunakan sebanyak 55 orang mahasiswa putra TPB IPB berusia 17 – 19 tahun dan mempunyai IMT < 18,5.
Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Tersarang yaitu volume susu tersarang dalan jenis susu. Penelitian ini terdiri dari 2 faktor yaitu jenis susu dengan dua taraf dan volume susu dengan tiga taraf. Masing-masing jenis susu (susu berkalsium tinggi, susu segar) diberikan dalam beberapa taraf volume (porsi) pemberian yaitu 250 ml , 500 ml dan 750 ml selama 16 minggu (4 bulan). Selain faktor jenis dan volume susu, faktor lain yang dianggap sebagai faktor penggangu (confounding factor) yang diukur adalah kadar kalsium dan kepadatan tulang awal, aktivitas olahraga dan tingkat konsumsi energi zat gizi (protein, kalsium, fosfor, besi, vitamin D dan vitamin C).
Oleh:
SURYONO
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2007
COVER
Prakata
Ringkasan
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Susu adalah bahan pangan yang dikenal kaya akan zat gizi yang diperlukan oleh tubuh manusia. Konsumsi susu pada saat remaja terutama dimaksudkan untuk memperkuat tulang sehingga tulang lebih padat, tidak rapuh dan tidak mudah terkena risiko osteoporosis pada saat usia lanjut. Agar tulang menjadi kuat, diperlukan asupan zat gizi yang cukup terutama kalsium. Kalsium merupakan zat utama yang diperlukan dalam pembentukan tulang, dan zat gizi ini antara lain dapat diperoleh dari susu. Pada susu juga terkandung zat-zat gizi yang berperan dalam pembentukan tulang seperti protein, fosfor, vitamin D, vitamin C dan besi. Selain zat-zat gizi tersebut, susu juga masih mengandung zat-zat gizi penting lainnya yang dapat meningkatkan status gizi.
Masalah Penelitian
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
TINJAUAN PUSTAKA
Konsumsi Pangan dan Kecukupan Gizi
Konsumsi pangan merupakan banyaknya atau jumlah pangan, secara tunggal maupun beragam, yang dikonsumsi seseorang atau sekelompok orang yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan fisiologis, psikologis dan sosiologis. Tujuan fisiologis adalah upaya untuk memenuhi keinginan makan (rasa lapar) atau untuk memperoleh zat-zat gizi yang diperlukan tubuh. Tujuan psikologis adalah untuk memenuhi kepuasan emosional atau selera, sedangkan tujuan sosiologis adalah untuk memelihara hubungan manusia dalam keluarga dan masyarakat (Sedioetama 1996). Konsumsi pangan merupakan faktor utama untuk memenuhi kebutuhan gizi yang selanjutnya bertindak menyediakan energi bagi tubuh, mengatur proses metabolisme, memperbaiki jaringan tubuh serta untuk pertumbuhan (Harper et al.1986).
Susu sebagai Sumber Kalsium
Defisiensi dan Kecukupan Kalsium
Mekanisme Pengaturan Kalsium dalam Tubuh
Kalsium dan Kepadatan Tulang
Vitamin D dan Kepadatan Tulang
Vitamin C dan Kepadatan Tulang
Fosfor dan Kepadatan Tulang
Protein dan Kepadatan Tulang
Energi dan Kepadatan Tulang
Zat Besi dan Kepadatan Tulang
Penyakit Osteoporosis
Pola Makan dan Osteoporosis
KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS
Kerangka Pemikiran
Konsumsi pangan merupakan faktor penentu yang penting dalam menentukan status kepadatan tulang khususnya pada saat pertumbuhan seperti pada masa remaja. Kepadatan tulang akan semakin menurun seiring dengan bertambahnya usia. Menurut Khomsan (2004), status gizi remaja sangat ditentukan oleh pola makannya dalam pencapaian pertumbuhan optimal sesuai kemampuan genetis yang dimilikinya. Pada remaja pria yang memiliki status gizi baik, perawakan tubuh yang optimal dicapai pada saat usia 18-20 tahun.
Hipotesis
METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan selama 6 bulan dengan intervensi pemberian susu selama 4 bulan, bertempat di Asrama Putra Tingkat Persiapan Bersama Institut Pertanian Bogor (TPB IPB). Pemeriksaan darah dilaksanakan di Laboratorium SEAMEO-TROPMED FK-UI Jakarta dan Laboratorium PMI Bogor. Pemeriksaan kepadatan tulang dilakukan di Klinik Teratai Unit Densitometry RSCM Jakarta.
Penelitian ini merupakan bagian dari kegiatan ”Feeding Program for Needy Students” kerjasama SEAFAST Centre dengan Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia dan Departemen Ilmu & Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Desain Penelitian
Bahan Percobaan
Pelaksanaan Penelitian
Analisis Data
Keterbatasan Penelitian
Batasan Operasional
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Unit Percobaan
Karakteristik unit percobaan yang diambil dalam penelitian ini meliputi usia saat mengikuti penelitian, daerah asal dan rata-rata jumlah kiriman uang dari orang tua setiap bulan. Jumlah unit percobaan yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 55 orang. Data-data dari hasil penelitian ini selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut.
Usia
Daerah Asal
Jumlah Uang Kiriman Orang Tua
Konsumsi dan Tingkat Konsumsi Zat Gizi
Konsumsi Zat Gizi
Tingkat Konsumsi Zat Gizi
Kadar Kalsium Darah
Kepadatan Tulang
Kepadatan Tulang Pinggang
Kepadatan Tulang Punggung
Kepadatan Tulang Kepala
Kepadatan Tulang Lengan
Kepadatan Tulang Rusuk
Kepadatan Tulang Panggul
Kepadatan Tulang Kaki
PEMBAHASAN UMUM
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh jenis susu (susu berkalsium tinggi, susu segar) dan volume susu terhadap kadar kalsium darah dan kepadatan tulang remaja pria. Jenis susu yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis susu komersial yang sudah beredar dan dikonsumsi oleh masyarakat. Penelitian ini merupakan penelitian pertama yang dilakukan di Indonesia.
Tingkat konsumsi zat gizi pada umumnya terjadi peningkatan setelah perlakuan dilakukan. Hal ini karena selain dari makanan sehari-hari yang dikonsumsi, juga karena adanya kontribusi dari susu yang diberikan dan adanya pemberian makanan tambahan. Peningkatan terjadi pada kelompok energi, protein, kalsium dan vitamin D. Pada kelompok vitamin C, sebagian besar masih di bawah normal (<70%) dan pada kelompok zat besi, rataan tingkat konsumsi seluruh kelompok perlakuan juga masih di bawah normal. Kondisi ini dapat terjadi karena susu ataupun makanan tambahan yang diberikan bukan merupakan sumber vitamin C dan zat besi. Peningkatan yang lebih tinggi terdapat pada kelompok protein, kalsium dan vitamin D karena adanya kontribusi yang cukup tinggi dar susu yang diberikan. Hal ini perlu mendapat perhatian, karena kekurangan vitamin C maupun zat besi dalam waktu lama dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga lebih mudah terserang penyakit khususnya yang berhubungan denga tulang.
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
Pemberian kalsium tinggi berpengaruh sangat nyata (p<0,01) terhadap peningkatan kepadatan tulang pinggang dan punggung, akan tetapi tidak berpengaruh nyata (p>0,05) terhadap kadar kalsium darah dan kepadatan tulang kepala, lengan, rusuk, panggul dan kaki.
Pemberian susu berkalsium tinggi selama 4 bulan sebanyak 750 ml (diminum 3 X sehari @ 250 ml) menghasilkan kepadatan tulang pinggang dan punggung lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian susu sebanyak 500 ml (diminum 2 X sehari @ 250 ml) dan 250 ml (diminum 1 X sehari @ 250 ml).
Pemberian susu segar tidak berpengaruh nyata (p>0,05) terhadap kadar kalsium dan kepadatan tulang (pinggang, punggung, kepala, lengan, rusuk, panggul dan kaki).
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
1 Angka kecukupan energi, protein, kalsium, vitamin D, vitamin C,
dan fosfor untuk remaja pria
2 Kandungan kalsium pada susu dan beberapa produk olahannya
3 Asupan kalsium yang dianjurkan untuk pria usia 15-50 tahun di Eropa,
Inggris, Amerika Serikat dan Indonesia
4 Kandungan zat gizi utama susu perlakuan
5 Batas ambang Indeks Massa Tubuh (IMT) untuk Indonesia
6 Peubah, cara pengukuran dan analisis data
7 Karakteristik unit percobaan
8 Rata-rata konsumsi zat gizi setiap kelompok unit percobaan
9 Rata-rata tingkat konsumsi zat gizi setiap kelompok unit percobaan
(% AKG)
10 Kontribusi zat gizi susu perlakuan pada unit percobaan (% AKG)
11 Rata-rata kadar kalsium darah awal dan akhir penelitian
12 Sidik peragam kadar kalsium darah
13 Rata-rata kepadatan tulang pinggang awal dan akhir penelitian
14 Sidik peragam kepadatan tulang pinggang
15 Model linier kepadatan tulang pinggang dengan susu berkalsium tinggi
16 Model linier kepadatan tulang pinggang dengan susu segar
17 Rata-rata kepadatan tulang punggung awal dan akhir penelitian
18 Sidik peragam kepadatan tulang punggung
19 Model linier kepadatan tulang punggung dengan susu berkalsium tinggi 74
20 Model linier kepadatan tulang punggung dengan susu segar
21 Rata-rata kepadatan tulang kepala awal dan akhir penelitian
22 Sidik peragam kepadatan tulang kepala
23 Model linier kepadatan tulang kepala dengan susu kalsium tinggi
24 Model linier kepadatan tulang kepala dengan susu segar
25 Rata-rata kepadatan tulang lengan awal dan akhir penelitian
26 Sidik peragam kepadatan tulang lengan
27 Model linier kepadatan tulang lengan dengan susu berkalsium tinggi
28 Model linier kepadatan tulang lengan dengan susu segar
29 Rata-rata kepadatan tulang rusuk awal dan akhir penelitian
30 Sidik peragam kepadatan tulang rusuk
31 Model linier kepadatan tulang rusuk dengan susu kalsium tinggi
32 Model linier kepadatan tulang rusuk dengan susu segar
33 Rata-rata kepadatan tulang panggul awal dan akhir penelitian
34 Sidik peragam kepadatan tulang panggul
35 Model linier kepadatan tulang panggul dengan susu berkalsium tinggi
36 Model linier kepadatan tulang panggul dengan susu segar
37 Rata-rata kepadatan tulang kaki awal dan akhir penelitian
38 Sidik peragam kepadatan tulang kaki
39 Model linier kepadatan tulang kaki dengan susu berkalsium tinggi
40 Model linier kepadatan tulang kaki dengan susu segar
DAFTAR GAMBAR
1 Patogenesis dari osteoporosis
2 Kerangka pemikiran penelitian
3 Skema seleksi dan penempatan unit percobaan
4 Skema tahapan pelaksanaan penelitian
5 Hubungan model linier susu kalsium tinggi dengan kepadatan tulang pinggang
6 Batas bawah dan batas atas kepadatan tulang pinggang dengan volume susu
kalsium tinggi yang diteliti (selang kepercayaan 95%)
7 Hubungan model linier susu kalsium tinggi dengan kepadatan tulang
punggang
8 Batas bawah dan batas atas kepadatan tulang punggung dengan volume
susu kalsium tinggi yang diteliti (selang kepercayaan 95%)
DAFTAR LAMPIRAN
1 Kuesioner recall 1 X 24 jam konsumsi pangan
2 Kuesioner frekuensi konsumsi pangan
3 Kuesioner jenis aktivitas sehari-hari
4 Konsumsi energi dan protein unit percobaan
5 Konsumsi kalsium, fosfor dan besi unit percobaan
6 Konsumsi vitamin D dan vitamin C unit percobaan
7 Tingkat konsumsi energi dan protein unit percobaan (%AKG)
8 Tingkat konsumsi kalsium, fosfor dan besi unit percobaan (% AKG)
9 Tingkat konsumsi vitamin D dan vitamin C unit percobaan (% AKG)
10 Usia, berat badan (BB), tinggi badan (TB) dan Indeks Massa Tubuh (IMT) unit
percobaan
11 Kadar kalsium darah unit percobaan
12 Kepadatan tulang pinggang dan punggung unit percobaan
13 Kepadatan tulang kepala, lengan dan rusuk unit percobaan
14 Kepadatan tulang panggul dan kaki unit percobaan
15 Aktivitas olahraga unit percobaan
16 Program SAS untuk ANCOVA (Analysis of Covariance)
17 Program SAS untuk analisis model linier
18 Rekomendasi Persetujuan Etik Penelitian Kesehatan
19 Surat Persetujuan Partisipasi