MODEL PENGENDALIAN PENCEMARAN PERAIRAN DI DANAU MANINJAU SUMATERA BARAT
Tanggal: 02 Nov 2007
Laporan: MARGANOF
 
Kualitas perairan Danau Maninjau semakin menurun akibat masuknya beban pencemar baik organik maupun anorganik yang berasal dari berbagai sumber pencemar. Sumber utama pencemaran berasal dari kegiatan di sekitar perairan danau, seperti dari permukiman, pertanian, peternakan dan perhotelan serta kegiatan di badan air danau yaitu kegiatan keramba jaring apung (KJA). Tujuan utama penelitian ini adalah untuk membangun model pengendalian pencemaran perairan di Danau Maninjau. Untuk mencapai tujuan utama tersebut, maka pada penelitian ini dilakukan beberapa kegaitan diantaranya (1) menentukan kondisi eksisting perairan Danau Maninjau, (2) membangun suatu model dinamis yang menggambarkan sistem pengendalian pencemaran perairan di Danau Maninjau, dan (3) merumuskan kebijakan atau skenario pengendalian pencemaran perairan danau.
Model di dalam penelitian ini dibangun melalui pendekatan sistem dengan menggunakan program powersim versi 2,5c. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter pencemaran perairan danau seperti COD, BOD5, DO, TSS dan PO43- sudah di atas ambang batas yang dipersyaratkan sebagai sumber air baku air minum. Berdasarkan nilai indeks mutu lingkungan perairan (IMLP) perairan Danau Maninjau dikategorikan dalam kondisi tercemar sedang. Model pengendalian pencemaran terbangun dalam lima sub-model limbah yaitu: (1) sub-model limbah penduduk, (2) sub-model limbah hotel, (3) sub-model limbah peternakan, (4) sub-model limbah pertanian, dan (5) sub-model limbah KJA. Melalui analisis prospektif didapatkan lima faktor penting yang berpengaruh di masa depan dalam pengendalian pencemaran perairan di Danau Maninjau, yaitu (1) jumlah KJA, (2) pertumbuhan penduduk, (3) partisipasi masyarakat, (4) pemanfaatan lahan, dan (5) dukungan pemerintah daerah.


Oleh:
MARGANOF
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2007
hp:081310928345

Cover
Abstrak
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Indonesia memiliki lebih dari 500 danau dengan luas keseluruhan lebih dari 5.000 km2 atau sekitar 0,25% dari luas daratan Indonesia (Davies et al.,1995), namun status kondisi sebagian besar danau tersebut akhir-akhir ini sudah sangat memprihatinkan. Pada saat ini fungsi dan manfaat danau dirasakan sudah semakin berkurang. Fenomena ini disebabkan oleh terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan perairan danau serta koordinasi antar sektoral dalam pengelolaannya yang sangat lemah atau hampir tidak ada sama sekali (Sumarwoto et al., 2004).
Pencemaran yang terjadi di perairan danau, merupakan masalah penting yang perlu memperoleh perhatian dari berbagai pihak. Hal ini disebabkan beragamnya sumber bahan pencemar yang masuk dan terakumulasi di danau. Sumber-sumber bahan pencemar tersebut antara lain berasal dari kegiatan produktif dan non-produktif di upland (lahan atas), dari permukiman dan dari kegiatan yang berlangsung di badan perairan danau itu sendiri, dan sebagainya. Jenis bahan pencemar utama yang masuk ke perairan danau terdiri dari beberapa macam, antara lain limbah organik dan anorganik, residu pestisida, sedimen dan bahan-bahan lainnya.

1.2. Tujuan Penelitian
1.3. Kerangka Pemikiran
1.4. Perumusan Masalah
1.5. Manfaat Penelitian
1.6. Novelty (Kebaruan) Penelitian

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Ekosistem Perairan Danau
Ekosistem merupakan suatu sistem ekologi yang terdiri atas komponen-komponen biotik dan abiotik yang saling berintegrasi sehingga membentuk satu kesatuan. Di dalam ekosistem perairan danau terdapat faktor-faktor abiotik dan biotik (produsen, konsumen dan pengurai) yang membentuk suatu hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi. Perairan danau merupakan salah satu bentuk ekosistem air tawar yang ada di permukaan bumi. Secara fisik, danau merupakan suatu tempat yang luas yang mempunyai air yang tetap, jernih atau beragam dengan aliran tertentu (Jorgensen and Vollenweiden, 1989). Sementara itu, menurut Ruttner (1977) dan Satari (2001) danau adalah suatu badan air alami yang selalu tergenang sepanjang tahun dan mempunyai mutu air tertentu yang beragam dari satu danau ke danau yang lain serta mempunyai produktivitas biologi yang tinggi.

2.2. Pencemaran Perairan Danau
2.3. Eutrofikasi
2.4. Indikator Parameter Pencemaran
2.4.1. Parameter Fisika
2.4.2. Parameter Kimia
2.4.3. Parameter Mikrobiologi
2.5. Dampak Pemanfaatan Lahan terhadap Kualitas Perairan
2.6. Dampak Sedimentasi terhadap Kualitas Perairan
2.7. Pengendalian Pencemaran Perairan Danau
2.8. Pendekatan Sistem
2.9. Modeling (Pemodelan)
2.10. Validasi dan Sensitivitas Model
2.11. Persepsi Masyarakat dalam Pengendalian Pencemaran

III. METODE PENELITIAN
3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di perairan Danau Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Agam Sumatera Barat. Lokasi penelitian berjarak ± 140 km dari Kota Padang. Secara geografis Danau Maninjau terletak antara 00 17’ – 07.04’’ lintang selatan dan 1000 - 09’58.0” bujur timur. Danau Maninjau merupakan danau kaldera yang terbentuk dari aktivitas gunung berapi, terletak pada ketinggian muka air danau sekitar 264,5 m di atas permukaan laut (dpl) yang mempunyai luas permukaan air sekitar 9.737, 50 ha, dengan volume air sebesar 10.226.001.629,2 m3. Penelitian ini dilakukan selama 7 (tujuh) bulan, dimulai dari bulan Januari sampai dengan Juli 2006. Beberapa pengambilan data juga dilakukan di luar jadwal tersebut.
3.2. Bahan dan Alat
3.3. Jenis dan Sumber Data
3.4. Pelaksanaan Penelitian
3.5. Analisis Data
3.5.1. Analisis Fisika, Kimia dan Mikrobiologi
3.5.2. Analisis Beban Pencemar
3.5.3. Analisis Persepsi Masyarakat
3.5.4. Pendekatan Sistem dalam Pengendalian Pencemaran
3.6. Model Pengendalian Pencemaran
3.7. Asumsi yang Digunakan
3.8. Analisis Pengembangan Skenario Pengendalian Pencemaran
3.9. Definisi Operasional

IV. PROFIL DAERAH PENELITIAN
4.1. Letak Administrasi dan Kondisi Geografis
Danau Maninjau secara administrasi termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat dengan jarak 105 km dari kota Padang. Secara geografis wilayah ini terletak pada 00 17’ – 07.04’’ LS dan 1000 - 09’58.0” BT dengan ketinggian 461,5 meter di atas permukaan laut (dpl). Dilihat dari proses terbentuknya, Danau Maninjau merupakan danau vulkanis, yaitu berasal dari letusan gunung berapi.
Kawasan Danau Maninjau, memanjang dari arah utara ke selatan dengan panjang 16,4 km dan lebar 7 km, dengan batas-batas sebelah utara Kecamatan Palembayan, sebelah selatan Kecamatan V Koto Kabupaten Padang Pariaman, sebelah barat Kecamatan IV Nagari dan sebelah timur Kecamatan Matur. Kawasan sekitar Danau Maninjau dikelilingi oleh 7 nagari (gabungan dari beberapa desa). Nagari-nagari tersebut adalah Nagari Maninaju, Nagari Bayur, Nagari Koto Kaciak, Nagari Tanjung Sani, Nagari II Koto, Nagari III Koto dan Nagari Sungai Batang.

4.2. Iklim dan Curah Hujan
4.3. Kondisi Tofografi
4.4. Hidrologi.
4.5 Geologi Kawasan Danau Maninjau
4.6. Tataguna Lahan di sekitar Perairan Danau
4.7. Kependudukan di Kawasan Danau Maninjau
4.8. Lapangan Kerja Penduduk
4.9. Pendidikan Masyarakat di Kawasan Danau Maninjau
4.10.Kesehatan Masyarakat
4.11.Isu Pencemaran Perairan di Danau Maninjau

V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Kondisi Eksisting Perairan Danau
5.1.1. Parameter Fisika, Kimia dan Mikrobiologi
Pengetahuan mengenai kondisi kualitas perairan danau yang dicerminkan oleh nilai konsentrasi beberapa parameter kualitas air, baik secara fisika, kimia maupun secara biologi sangat diperlukan dalam merancang pengelolaan dan pengendalian pencemaran perairan tersebut. Penilaian ini pada dasarnya dilakukan dengan membandingkan nilai parameter kualitas air dari hasil pengukuran di lapangan dengan baku mutu perairan sesuai peruntukannya yang berlaku di Indonesia yakni mengacu pada PP RI No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Salah satu pemanfaatan perairan Danau Maninjau adalah digunakan sebagai sumber air baku air minum, maka berdasarkan peraturan tersebut dalam penelitian ini sebagai pembanding digunakan baku mutu air kelas 1, yaitu air yang peruntukannya digunakan sebagai air baku air minum, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut. Hasil analisis parameter fisika, kimia dan mikrobiologi perairan danau secara lengkap disajikan pada Lampiran 2.

5.1.2. Status Kualitas Lingkungan Perairan Danau
5.2. Sumber dan Jenis Pencemar Perairan Danau
5.3. Beban Pencemaran Perairan Danau
5.4. Persepsi Masyarakat dalam Pengendalian Pencemaran
5.5. Pemodelan Sistem
5.5.1. Sub-model Limbah Penduduk
5.5.2. Sub-model Limbah Hotel
5.5.3. Sub-model Limbah Peternakan
5.5.4. Sub-model Limbah Pertanian
5.5.5. Sub-model Limbah KJA
5.5.6. Analisis Kecenderungan Sistem
5.5.7. Validasi Model
5.6. Penyusunan Skenario Pengendalian Pencemaran Perairan
5.7. Analisis Perbandingan Penerapan antar Skenario
5.8. Arahan Kebijakan Pengendalian Pencemaran Perairan Danau
5.9. Analisis Sensitivitas
5.10. Pembahasan Umum

VI. KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Parameter kualitas perairan danau yang telah melampui baku mutu air kelas 1 berdasarkan PP No. 82 tahun 2001 yang peruntukannya sebagai sumber air baku air minum adalah TSS, COD, BOD5, nitrit dan fosfat. Berdasarkan indeks mutu lingkungan perairan (IMLP), maka mutu perairan Danau Maninjau termasuk kualitas sedang atau tercemar ringan.

6.2. Saran

DAFTAR PUSTAKA


LAMPIRAN 1

LAMPIRAN 2

LAMPIRAN 3a

LAMPIRAN 3b

LAMPIRAN 4

LAMPIRAN 5

LAMPIRAN 6

LAMPIRAN 7

LAMPIRAN 8

LAMPIRAN 9
 
 
   
 
>> INDUKSI VARIAN SOMAKLON MELALUI IRADIASI SINAR GAMMA DAN SELEKSI IN VITRO UNTUK MENDAPATKAN TANAMAN NILAM TOLERAN TERHADAP CEKAMAN KEKERINGAN
>> IMPLEMENTASI KEBIJAKAN NASIONAL DAN PERAN PEMERINTAH DAERAH DALAM PENGHAPUSAN PERDAGANGAN ANAK (Studi Di Kabupaten Karawang)
>> PENGARUH PEMBERIAN SUSU BERKALSIUM TINGGI TERHADAP KADAR KALSIUM DARAH DAN KEPADATAN TULANG REMAJA PRIA
>> EKSTRAK BENALU TEH (Scurrula oortiana) SEBAGAI IMUNOMODULATOR DAN ANTITUMOR INFEKSI Marek’s Disease Virus (MDV) SEROTIPA 1 ONKOGENIK PADA AYAM
>> ANALISIS DAN SIMULASI DISTRIBUSI SUHU UDARA PADA KANDANG SAPI PERAH MENGGUNAKAN COMPUTATIONAL FLUID DYNAMICS (CFD)
>> FUNGSI MAJELIS EKONOMI MUHAMMADIYAH DALAM PEMBERDAYAAN EKONOMI UMAT DI KOTA METRO BANDAR LAMPUNG
>> PENGARUH PENGEMBANGAN PEGAWAI DALAM KONTEKS IMPLEMENTASI ONLINE SYSTEM TERHADAP KEPUASAN KERJA, KOMITMENT DAN KINERJA PEGAWAI PADA PT. BANK JATIM DI SURABAYA
>> PEMBANGUNAN DESAIN MATERI PELATIHAN SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KOPMPETENSI KARYAWAN TEKNIS DIVISI PERTANIAN PT. NUSA INDO AGROMADANI SURABAYA
>> PEMANASAN BERULANG TERHADAP KANDUNGAN GIZI "SIE REUBOH" MAKANAN TRADISIONAL ACEH
>> ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGGUNAAN INFORMASI AKUNTANSI PADA USAHA MENENGAH KABUPATEN SIDOARJO
>> TEKNOLOGI PENANGKAPAN PILIHAN UNTUK IKAN CAKALANG DI PERAIRAN SELAYAR PROPINSI SULAWESI SELATAN
>> HUBUNGAN GAYA PENGASUHAN ORANG TUA AUTHORITARIAN DENGAN KEMANDIRIAN EMOSIONAL REMAJA (Studi Remaja Madya dalam Perspektif Psikologi Perkembangan Pada Siswa SMA Negeri I Punggaluku Kabupaten Konawe Selatan Sulawesi Tenggara)
>> PERANAN PEREMPUAN TANI DALAM PEMBERDAYAAN EKONOMI KELUARGA PETANI MISKIN ( STUDI KASUS KELUARGA PETANI SAWAH TADAH HUJAN DI DESA BONTO MATE’NE KECAMATAN MANDAI KABUPATEN MAROS )
>> PENGARUH PEMBERIAN MIE INSTAN FORTIFIKASI PADA IBU MENYUSUI TERHADAP KADAR ZINK DAN BESI ASI SERTA PERTUMBUHAN LINIER BAYI
>> PEMBERDAYAAN PENYANDANG CACAT MELALUI PROGRAM REHABILITASI BERSUMBERDAYA MASYARAKAT (Studi Kasus Pelaksanaan Pemberdayaan Terhadap 7 Penyandang Cacat Melalui Program RBM di Kecamatan Rantepao Tana Toraja)
  
 
 




Home | Profil | Kontak Kami | Buku Tamu
Redaksi Damandiri : redaksi@damandiri.or.id
Copyright © 2003 Damandiri.or.id
designed by Gemari Online
Streaming Radio DFM Jakarta

Gemari Online