
Penyakit antraknosa pada buah pepaya merupakan salah satu faktor pembatas produksi pada pertanaman pepaya di dunia, termasuk di Indonesia. Pembentukan varietas yang tahan merupakan salah satu cara pengendalian yang tepat. Hal yang penting untuk menentukan strategi pemuliaan yang efektif adalah informasi tentang patogen penyebab antraknosa dan tetua donor serta kendali genetik penyakit antraknosa pada tanaman pepaya.
Penelitian ini meliputi empat kegiatan yaitu (1) Studi patogen penyebab penyakit antraknosa, (2) Penapisan ketahanan plasma nutfah pepaya (Carica papaya L.), (3) Korelasi antar karakter terhadap karakter ketahanan, (4) Analisis silang diallel untuk karakter ketahanan pepaya terhadap antraknosa.
Penelitian yang dilakukan bertujuan :mengidentifikasi patogen penyebab antraknosa dan mendapatkan metode skrining yang efisien untuk penentuan derajat ketahanan terhadap penyakit antraknosa pada pepaya , mengetahui adanya tanaman yang tahan dan rentan pada plasma nutfah yang ada yang akan digunakan sebagai tetua, mengevaluasi keragaan umum beberapa karakter kuantitatif pepaya yang mencerminkan tingkat ketahanan terhadap penyakit antraknosa. menghitung besarnya daya gabung (umum dan khusus) dan heterosis dari hasil persilangan half diallel, sehingga diharapkan diperoleh keterangan tentang potensi hibrida.
Oleh:
SITI HAFSAH
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2007
hp:081382646971
COVER
PRAKATA
ABSTRAK
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pepaya (Carica pepaya) merupakan salah satu tanaman buah yang sangat penting dalam pemenuhan kalsium dan sumber vitamin A dan C (Nakasome dan Paull 1998). Selain dikonsumsi sebagai buah segar, buah pepaya yang masak dapat diolah menjadi minuman penyegar, dan sebagai bahan baku industri makanan (Villegas 1997). Manfaat pepaya yang lain adalah papain dari getah pepaya mengandung enzim proteolitik, dapat digunakan sebagai pelunak daging. Karpaina yang terkandung dalam daun pepaya berguna untuk mengurangi gangguan jantung, obat anti amuba dan obat peluruh kencing, serta biji buah pepaya dapat digunakan sebagai obat peluruh kencing (Villegas 1992). Penelitian Hutari (2005) menunjukkan potensi latex pepaya sebagai fungisida nabati untuk penyakit antraknosa pada buah pepaya setelah dipanen.
Tujuan dan Manfaat Penelitian
Kerangka Pemikiran dan Pengajuan Hipotesis
Ruang Lingkup Penelitian
TINJAUAN PUSTAKA
Pepaya (Carica papaya L.) merupakan tanaman yang berasal dari Amerika tropis. Pusat penyebaran tanaman pepaya ini diduga berada di daerah sekitar Meksiko bagian selatan dan Nikaragua. Tanaman pepaya merupakan tanaman polygamous diploid 2n=18. Sistematika taksonomi tanaman pepaya termasuk dalam Divisi: Spermatophyta, Klas: Angiospermae, Sub klas: Dicotyledonae, Ordo: caricales, Famili: Caricae, Genus: Carica dan Spesies : Carica papaya L.
Pepaya merupakan tanaman herba dengan batang tunggal dengan tinggi tanaman mencapai 9 meter (Nakasone dan Paull 1998). Bentuk batang silindris dengan diameter 10-30 cm. Daun terbagi dalam tujuh lekukan dalam, terdapat ujung dan tangkai daun silindris dan berongga. Berdasarkan bunganya tanaman pepaya dapat digolongkan kedalam tiga tipe yakni bunga jantan (staminate), bunga betina (pistilate) dan bunga sempurna (hermaprodit) yang terdiri dari 4 macam yaitu: bunga sempurna elongata, bunga sempurna pentandria, bunga sempurna antara dan bunga sempurna rudimenter. Dari struktur bunga tersebut dapat dibagi tiga yakni: pohon pepaya betina, pohon pepaya hermaprodit dan pohon pepaya jantan (Rukmana 1995).
STUDI PATOGEN ANTRAKNOSA PADA PEPAYA
Abstrak
Identifikasi spesies Colletotrichum sangat dibutuhkan untuk penerapan metode pengendalian yang efektif dan pembentukan varietas resisten. Metode tradisional untuk mendeteksi spesies Colletotrichum penyebab antraknosa pada pepaya dapat dilakukan dengan cara mengkarakterisasi morfologi, ada tidaknya seta dan warna koloni. Berdasarkan bentuk konidia, adanya seta dan warna dari koloni, isolat dari pepaya termasuk Colletotrichum gloeosporiedes. Isolat TJR1 menunjukkan pertumbuhan optimum pada suhu 28oC (suhu kamar) sehingga isolat ini dapat digunakan sebagai isolat untuk penapisan genotipe pepaya terhadap penyakit antraknosa yang dilakukan dilaboratorium pada suhu kamar (28oC). Kecepatan pertumbuhan optimum Colletotrichum gloeosporiedes isolat dari pepaya (TJR1,TJR2, TJR3,TJR4, GG1 dan GG2) dan isolat dari cabai (BGR11) pada suhu 24oC, sedangkan Colletotrichum capsici (GGc) isolat dari cabai menunjukkan kecepatan pertumbuhan optimum pada suhu 32oC. Seluruh isolat dari pepaya dan cabai yang berhasil di koleksi menunjukkan potensi infeksi pada buah cabai dan pepaya. Metode inokulasi yaitu tempel dilukai dan semprot tidak dilukai, menunjukkan masa inkubasi, diameter dan kejadian penyakit yang tidak berbeda nyata, sehingga kedua metode ini dapat digunakan dalam metode inokulasi dalam kegiatan penapisan genotipe pepaya terhadap penyakit antraknosa.
Abstract
Pendahuluan
Bahan dan Metode
Hasil dan Pembahasan
Simpulan
Daftar Pustaka
PENAPISAN KARAKTER KETAHANAN PEPAYA TERHADAP PENYAKIT ANTRAKNOSA
Abstrak
Penapisan genotipe pepaya terhadap ketahanan penyakit antraknosa perlu dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang sumber ketahanan dalam usaha pemuliaan pepaya terhadap penyakit antraknosa. Penapisan dilakukan dengan dua cara yaitu infeksi alami di lapang dan infeksi buatan di laboratorium. Penapisan pertama dengan infeksi alami di lapang dilakukan pada tujuh genotipe pepaya (IPBl, IPBIO, STR64, IPB5,IPB6, PB2001 dan PB000174). Penapisan kedua dengan infeksi buatan di laboratorium dilakukan pada lima genotipe pepaya (IPBl, IPBIO, STR64, IPB5 dan PB000174). Hasil penapisan ketahanan pepaya terhadap antraknosa dengan infeksi alami dari lapangan menunjukkan bahwa PBOOOI74 dan IPB6 (agak tahan), IPBl (agak renlan) dan IPBIO, STR64, dan IPB5 (rentan). Berdasarkan peubah masa inkubasi dan diameter gejala, menunjukkan antara genotipe PB000174 dan IPBl tidak menunjukkan perbedaan nyata.
Abstract
Pendahuluan
Bahan dan Metode
Hasil dan Pembahasan
Simpulan
Daftar Pustaka
UJI KORELASI DAN SIDIK LINTAS BEBERAPA KARAKTER PEPAYA TERHADAP KETAHANAN ANTRAKNOSA
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi pengaruh langsung maupun tidak langsung antara karakter agronomi dan ketahanan pepaya terhadap penyakit antraknosa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa panjang buah, ketebalan buah dan persentase gejala berkorelasi negatif nyata terhadap ketahanan pepaya terhadap antraknosa. Korelasi positif yang mengindikasikan ketahanan diperoleh pada persen padatan total terlarut (PTT) dan kekerasan buah. Aplikasi path analysis menunjukkan bahwa persentase gejala berpengaruh langsung terhadap keparahan penyakit. Pangaruh tidak langsung terhadap ketahanan adalah persen PTT dan kekerasan buah melalui persen gejala. Karakter padatan total dapat dijadikan kriteria seleksi ketahanan terhadap antraknosa karena menunjukkan korelasi yang tinggi, pengaruh langsung tinggi dan heritabilitas tinggi. Seleksi juga dapat secara langsung dilakukan pada peubah persentase gejala karena menunjukkan heritabilitas yatig tinggi.
Abstract
Pendahuluan
Bahan dan Metode
Hasil dan Pembahasan
Simpulan
Daftar Pustaka
PENDUGAAN PARAMETER GENETIK UNTUK KARAKTER KETAHANAN PEPAYA TERHADAP ANTRAKNOSA
Abstrak
Dalam rangka mendapatkan informasi tentang parameter pemuliaan tanaman dalam pembentukan ketahanan pepaya terhadap antraknosa yang disebabkab oleh C. gloeosporioides maka perlu dilakukan penetitian tentang pendugaan parameter genetic untuk karakter ketahanan pepaya terhadap antraknosa. Kegiatan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan daya gabung antar tetua yang digunakan baik itu daya gabung utnum (DGU) maupun daya gabung khusus (DGK.) serta efek heterosis pada karakter ketahanan terhadap antraknosa. Bahan genetik yang digunakan adalah lima tetua yang disilangkan dengan metode half diattel. Hasil analisis daya gabung menunjukkan bahwa gen yang berperan dalam mengendalikan ketahanan terhadap antraknosa adalah gen aditif dan non aditif. Hasil persilangan antara genotipe tahan dengan genotipe rentan menunjukkan bahwa ketahanan antraknosa pada pepaya diduga dikendalikan oleh tiga kelompok gen (poligenik). Persilangan antara genotipe IPB5 x PB000174 menunjukkan nilai heterosis tertinggi diantara persilangan lainnya yaitu 51.51% di tajur dan 48.71% di Gunung Geulis.
Abstract
Pendahuluan
Bahan dan Metode
Hasil dan Pembahasan
Simpulan
Daftar Pustaka
PEMBAHASAN UMUM
Pengembangan konsep pemuliaan pepaya tahan antraknosa adalah suatu kegiatam dalam upaya mendapatkan genotipe tahan. Salah satu metode pengendalian yang aman, murah dan ramah lingkungan adalah dengan penggunaan genotipe tahan. Pengendalian penyakit antraknosa pada pepaya yang sering dilakukan saat ini adalah dengan menggunakan fungisida, perendaman air panas, pengendalian biologi. Namun metode pengendalian yang dilakukan belum efektif dan dapat berdampak negatif. Oleh karena itu kegiatan pemuliaan untuk memperoleh varietas yang tahan antraknosa sangat diperlukan.
SIMPULAN DAN SARAN
1. Penyebab antraknosa pada pepaya isolat yang dikoleksi dari Tajur dan Gunung Geulis adalah C. gloeosporioides.
2. Pertumbuhan optimal C. gloeosporioides asal pepaya di Tajur dan Gunung Geulis pada suhu 24-28 oC.
3. C. gloeosporioides asal pepaya mampu menginfeksi buah cabai, demikian pula sebaliknya
4. Metode inokulai yang dapat dianjurkan untuk kegiatan penapisan genotipe pepaya tahan antraknosa adalah metode inokulasi penempelan biakan dan pelukaan jaringan (TP) dan metode inokulasi penempelan biakan tanpa pelukaan jaringan (SL).
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN 1
LAMPIRAN 2