
Pada hari Sabtu tanggal 16 Februari 2008 lalu telah dilakukan penanda tanganan MOU antara Universitas Negeri Jakarta, Perguruan Diponegoro Jakarta dan Yayasan Damandiri di Jakarta. Penanda tangan MOU itu merupakan awal pengembangan kerjasama pembekalan kepada siswa-siswa SMA Perguruan Diponegoro, khususnya siswa kelas III, berupa pemberdayaan ketrampilan hidup dalam masyarakat. Pihak Universitas Negeri Jakarta akan bertindak sebagai pelaksana pemberian pembekalan, guru dan siswa SMA Diponegoro sebagai penerima pemberdayaan dan Yayasan Damandiri mengusahakan dukungan fasilitasi pembiayaan dan pengarahan sasaran yang akan dikerjakan bersama.
Seperti diketahui, siswa-siswa Perguruan Diponegoro sebagian besar berasal dari keluarga kurang mampu. Namun umumnya cerdas dan apabila memperoleh bimbingan bukan tidak mungkin bisa mengembangkan hidup masa depan yang sejahtera. Siswa-siswa tersebut mempunyai etos kerja keras, disiplin tinggi dan kerjasama antar pengasuh, guru, pelajar dan para orang tua yang berjalan lancar. Orang tua mereka mempunyai harapan yang sangat besar bahwa anak-anak mereka yang bersekolah sampai ke tingkat SMA bisa memotong rantai kemiskinan yang menghantui kehidupan keluarganya.
Oleh karena itu Perguruan Diponegoro yang diasuh oleh Yayasan Al Hidayah dan dipimpin oleh Ir. Imam Parikesit itu menyambut kerjasama ini dengan antusiasme yang tinggi. Pimpinan Yayasan dan Kepala Sekolah, yang dibantu oleh penasehatnya seorang ahli pendidikan terkenal, Prof. Dr. Arief Rachman, M.Ed. itu, mengetrapkan kegiatan belajar mengajar dengan disiplin yang tinggi. Untuk menciptakan kenyamanan, suasana sekitar Sekolah ditata rapi dengan taman-taman indah. Biarpun uang gedung dan uang SPP relatif kecil, Sekolah dilengkapi laboratorium komputer dan fasilitas lain yang memadai. Lebih dari itu, siswa SMA di perguruan ini, disamping memperoleh gemblengan seperti sekolah unggul lainnya, juga mendapatkan pelajaran ekstra kurikuler dalam bidang kesenian, gamelan, musik, tarian, berbagai kegiatan keagamaan, olah raga dan lainnya. Sekolah yang megah ini dilengkapi Masjid besar dan anggun yang pembangunannya disumbang oleh Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila (YAMP).
Prof. Dr. Arief Rachman M.Ed., Ir Imam Parikesit dari pihak Perguruan Diponegoro maupun Dr. Bedjo Sujanto, Rektor UNJ, mengharapkan agar kerjasama yang disepakati pada akhir minggu lalu, segera dapat direalisasikan. Anak-anak yang menyelesaikan pendidikannya, maupun masa depan teman-teman mereka yang sedang sekolah pada perguruan ini, diharapkan bisa merubah impian dan harapan orang tua dan siswa, menjadi kenyataan, yaitu lulusan yang lebih siap menghadapi masa depan yang penuh tantangan.
Menanggapi harapan itu, Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Yayasan Damandiri, yang hadir bersama Sekretaris Yayasan, Drs. Subiakto Tjakrawerdaja serta jajarannya secara lengkap, memberikan sambutan yang membesarkan hati. Prof. Dr. Haryono Suyono membeberkan situasi dan kondisi sosial ekonomi di tanah air yang tidak kondusif bagi generasi muda di masa depan. Kondisi yang memprihatinkan tersebut disebabkan adanya perubahan sosial ekonomi yang drastis serta struktur penduduk dan masyarakat yang berubah dengan kecepatan yang sangat tinggi. Perubahan itu berlangsung dalam waktu kurang dari satu generasi, sedangkan di negara maju, seperti Amerika dan Inggris, mengalami perubahan yang sama sekitar 100 – 150 tahun. Dengan kecepatan perubahan yang tinggi itu, pemerintah dan masyarakat luas kalang kabut memenuhi harapan rakyat yang melimpah.
Selanjutnya Prof. Dr. Haryono Suyono, dengan meminjam materi siraman rohani oleh Prof. Dr. Qurais Shihab dalam acara tahlilan untuk mendoakan Almarhum Bapak H. Moh. Soeharto beberapa hari sebelumnya, mengajak Pimpinan UNJ dan Perguruan Diponegoro serta para siswa untuk berdagang dengan Tuhan Yang Maha Esa. Menurut Prof. Qurais Shihab, Tuhan hanya mengajukan syarat yang sangat sederhana. Syarat yang pertama adalah kepercayaan yang tidak tergoyahkan dan tidak disekutukan kepada Tuhan selaku mitra berdagang. Kalau syarat itu dipenuhi maka semua “keuntungan berdagang” tidak akan diambil oleh Tuhan Yang Maha Esa, tetapi dikembalikan dengan berbagai bonus untuk kita semua sebagai mitra dagangnya. Setelah syarat pertama ini dipenuhi, ada syarat lain yang harus dipenuhi yaitu : Mengucapkan Dua Kalimat Syahadat, Sholat, Puasa, Zakat dan apabila mampu, melaksanakan Ibadah Haji. Dijanjikan pula bahwa apabila syarat-syarat itu dipenuhi, kegiatan perdagangan tidak saja diwujudkan dalam bentuk ritual keagamaan, tetapi juga lebih banyak diwujudkan berupa amal ibadah yang mempunyai dampak sangat luas dalam masyarakat. Makin luas dampak dari amal ibadah itu makin besar keuntungan yang diperoleh, dan makin besar keuntungan dikembalikan kepada kita dengan berbagai bonusnya.
Ditambahkan oleh Prof. Dr. Haryono Suyono bahwa karena nilai mutu manusia Indonesia begitu rendah, perdagangan dan janji keuntungan besar yang dikembalikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa itu bisa menjadi landasan motivasi yang kuat untuk mengembangkan kegiatan amal ibadah berupa pemberdayaan kepada masyarakat sekitar yang keuntungannya melimpah dan akan dikembalikan kepada kita. Digambarkannya bahwa ukuran keberhasilan amal ibadah yang sekaligus mengangkat mutu manusia Indonesia adalah pelaksanaan MDGs di pedukuhan. Apabila siswa, dengan bimbingan guru dan kalangan akademisi UNJ bisa membantu pemberdayaan masyarakat yang tinggal di sekitar sekolah, atau di desa-desa yang bisa dijangkau oleh para siswa dalam bidang wirausaha, pendidikan dan kesehatan, maka para siswa memperoleh pengalaman yang tidak ada tandingannya, dan masyarakat akan mendapat manfaat yang sangat tinggi.
Para siswa akan terjun langsung ke masyarakat dan belajar menghadapi segala persoalan nyata dengan pendampingan yang cukup, yaitu keluarga yang sedang bergelut, guru, dosen dan mahasiwa mitra kerjanya. Pengalaman siswa itu akan menjadi bekal yang luar biasa dan tidak mungkin diperolehnya di bangku sekolah. Para siswa akan diajak belajar wirausaha, apabila mungkin membangun koperasi atau usaha bersama dengan masyarakat sekitarnya. Para siswa akan diajak membantu anak-anak keluarga kurang mampu bersekolah sampai tingkat SMA atau membantu anak putus sekolah dengan ketrampilan yang memadai. Mereka akan diajak menyegarkan Posyandu dan mengembangkan akses terhadap fasilitas kesehatan yang lebih baik bagi keluarga yang tertinggal. Semoga berhasil. (Prof. Dr. Haryono Suyono, www.haryono.com).
