
PERTUMBUHAN penduduk Indonesia diprediksi tetap cepat perkembangannya sehingga jumlah penduduk usia tua (lansia) malah bakal meledak. Namun penduduk miskin tidak menurun karena belum optimalnya berbagai program pemberdayaan menyentuh masyarakat. "Penduduk usia tua bakal meledak," kata Ketua Yayasan Damandiri, Prof Dr Haryono Suyono, dalam stadium general dan penandatanganan kerjasama antara Yayasan Damandiri dengan Universitas Negeri Semarang (Unnes), di Semarang, Kamis (21/2). Dengan gaya yang khas dan guyonan yang menggelitik, kuliah umum yang dilakukan Haryono Suyono, sempat memukau civitas akademika Unnes. Apalagi, soal Program Posdaya yang diusungnya. Para mahasiswa di sana memang baru mendengar soal Posdaya tetapi mahasiswa sudah meyakini jika Posdaya diterapkan memiliki nilai sangat tinggi dalam mengentaskan kemiskinan masyarakat pedesaan.
Didampingi Sekretaris Yayasan damandiri, Subiakto Tjakrawedaja, dan Rektor Unnes Semarang, Prof Dr H Sudijono Sastroatmodjo, Haryono Suyono menegaskan bahwa wajib belajar yang selama ini sudah dikembangkan dan dilaksanakan perlu diubah.
"Salah, kalau wajar hanya 9 tahun. Seharusnya 12 tahun. malah untuk daerah tertinggi idealnya 15 tahun," papar Haryono Suyono.
Menyinggung soal informasi teknologi yang akan diterapkan di desa, menurut Haryono Suyono, difungsikan sebagai daya dukung jaringan media tradisional, meningkatkan petugas lapangan di pedesaan, memperluas jaringan TV dan radio, dan memperluas jangkauan media massa.
Maka, Yayasan Damandiri dalam mengembangkan Program Pengembangan IT Pedesaan khususnya di Jawa tengah, bekerja sama dengan Unnes.
Sementara, Rektor Rektor Unnes Semarang, Prof Dr H Sudijono Sastroatmodjo, menegaskan bahwa pihaknya memang memiliki perangkat IT dan siap untuk dikembangkan di ratusan desa yang menjadi asasaran Yayasan Damandiri.
Ditegaskannya bahwa IT membawa pesan segar dan menarik. Posdaya itu sendiri sudah dianggap tidak hanya sebagai pembelajaran masyartakat tetapi sebagai daya tarik, daya tampung, dan daya dukung pengembangan sumber daya manusia.
LPM terpukau
Sementara, dalam acara Koordinasi dan Konsultasi Lembaga Pengabdian Masyarakat dalam Kerangka Pengembangan SDM melalui Pembangunan Posdaya di Kantor BKKBN Pusat Jakarta, Jum'at (22/2) Haryono Suyono, pun tetap memukau peserta yang terdiri dari LPM se-Indonesia, perwakilan Bappeda Provinsi Jatim dan Jateng, serta pimpinan Kantor BKKBN provinsi se-Indonesia.
Faktanya, di Nusa Tenggara Barat (NTB), banyak santri nganggur setelah menempuh pendidikan dan banyak orang miskin walaupun banyak sekolah jurusan kesehatan. Setelah mendengar paparan Posdaya, peserta asal NTB, Sukaradi, mengusulkan agar Posdaya dikembangkan di NTB. "Pelatihan yang dikembangkan yayasan Damandiri itulah yang diperlukan masyarakat," kata Sukardi, dalam acara dialog yang dipandu Subiakto Tjakrawerdaja.
Sejumlah Pengurus LPM berbagai perguruan tinggi juga menyampaikan uneg-unegnya. Bahkan hari yang makin petang membuat peserta semkain banyak mengajukan pertanyaan. Namun Subiakto terpaksa membatasinya karena peserta diajak ke TVRI Jakarta, mengikuti acara dialog interaktif "Gemari" (gerakan masyarakat mandiri). Dalam acara itu hadir Menteri IDT, Lukman Edy sebagai nara sumber.
Sebelum acara itu, Haryono Suyono, bersama Pengurus yayasan damandiri lainnya juga diundang Kantor Kementrian IDT, untuk memberikan masukan tentang pemberdayaan masyarakat. Namun sesampai di sana, Menteri IDT Lukman Edy, mengajak kerjasama menggarap desa-desa tertinggal dengan mengembangkan Program Posdaya. "Intinya kita sudah sepakat menggarap desa tertinggal dan akan segera dilaksanakan," jelasnya.
Mengenai pendidikan juga dijelaskan bahwa agar anak usia sekolah di desa tertinggal harus 15 tahun agar desa itu tidak lagi tertinggal. "Setidaknya kaum wanita di desa tertinggal lulus SMA," jelasnya, mencontohkan.(otto sutoto)
