
Untuk memenuhi keinginan mahasiswa, Pak Harto legowo mengundurkan diri secara konstitusional pada tanggal 21 Mei 1998. Dengan harapan, refomasi akan menjadikan bangsa ini lebih baik lagi di masa depan. Namun, harapan itu ternyata berbuntut panjang. Setelah tuntutan mundur dipenuhi, tetap saja Pak Harto "diburu", dihujat dan dituduh korupsi. Memang hari-hari yang melelahkan bagi Pak Harto. Sejak lengser hingga kini, kasusnya dibuka, ditutup dan dibuka kembali. Begitu seterusnya. Sementara, dengan usianya yang telah sepuh, uzur, dan sakit-sakitan, Pak Harto pun bolak-balik keluar masuk rumah sakit. Ada komplikasi penyakit di tubuhnya.
Buku yang ditulis oleh Dewi Ambar Sari dan Lazuardi Adi Sage ini, bukanlah bermaksud menguak kembali luka lama. Namun ada banyak fakta menunjukkan, terjadinya "pengkhianatan", hujatan, tuduhan yang terus menerus kepada Pak Harto. Kita semua seolah telah melupakan, bahwa Pak Harto pernah menjadi seorang pemimpin yang membesarkan bangsa ini, dan begitu banyak jasa dan pengabdiannya.
Oleh : Dewi Ambar Sari
Lazuardi Adi Sage
Jakarta Citra 2007
220 Halaman
ISBN: 978-979-8977-17-6
Pengantar dari Penerbit
LAGI TENTANG PAK HARTO
Telah cukup banyak tulisan dan buku diterbitkan mengenai Pak Harto, baik itu dalam bentuk pandangan yang cenderung negatif yang umumnya diterbitkan pasca Reformasi 21 Mei 1998 - maupun dalam bentuk pandangan positif yang bertolak dari tataran objektifitas yang diterbitkan sebelum atau sesudah Reformasi. Bukan saja ditulis dan disajikan dalam sebuah aspek satu sudut pandang materi penulisan melainkan juga dalam aspek-aspek lain terkait dengan sosok apa dan bagaimana kepemimpinan Pak Harto.
Pengantar Penulis:
PAK HARTO DENGAN BAJU KOKO
Sungguh suatu kesempatan emas, akhirnya Rabu pagi jam 09.00 WIB, 22 Nopember 2006, kami bisa bertemu secara langsung dengan Pak Harto, di salah satu ruangan di kediaman jalan Cendana no 8, Jakarta Pusat. Pak Harto mengenakan baju koko warna putih, dan sarung bergaris kotak-kotak berwarna coklat terang. Rambutnya putih, namun senyumnya masih seperti dulu. Sementara, faktor usia dan penyakit, sama sekali memang tak bisa disembunyikan. Pak Harto yang kini berusia 86 tahun, tampak jauh berbeda dengan apa yang kami bayangkan sebelumnya.
ADAKAH PENGKHIANATAN ITU ?
Meski Pak Harto mengatakan sudah tua dan ingin lengser keprabon, namun tetap saja ia dipuja puji dan didorong oleh sejumlah tokoh nasional, ulama, parpol, ormas, untuk tampil kembali menjadi Presiden RI untuk ke 7 kalinya, periode masa bakti 1998-2003. Padahal usia Pak Harto 77 tahun.
Tahun 1998 yang Meresahkan
Bulan Mei yang Kelabu
Pak Harto dan BJ Habibie Pada akhirnya.
Ikhtisar dan Kesimpulan
HUJATAN DAN TUDUHAN BERKEPANJANGAN
Seandainya Pak Harto seorang diktator, tentulah ia akan mempertahankan kekuasaannya dengan kekerasan. Kekuasaan yang ditopang dengan kewenangannya selaku Presiden dan Pangti ABRI. Namun, Pak Harto, yang memenuhi tuntutan mundur sebagai presiden secara ikhlas dan legowo, ternyata berbuah hujatan dan tuduhan tiada henti.
Pelbagai Hujatan Yang Bermunculan
Tuduhan Atas Kekayaan Pak Harto
Tahanan Bagi Pak Harto
Pak Harto dan Tuduhan Korupsi di Yayasan
Diam, Sikap Dasar Pak Harto
Ikhtisar dan Kesimpulan
SANG PESAKITAN ITU
Dalam usianya yang menjelang malam, Pak Harto bukan saja mengalami sakit-sakit secara medis, tapi boleh jadi juga secara psikis. Keduanya berkaitan hingga emosinya tak lagi stabil. Namun, semua itu kini ia lewati dengan penuh ketulusan dan keikhlasan, serta yang pokok lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Tetap Mencintai Rakyat dan Bangsa ini
Tuduhan, Masihkah Berlanjut ?
Ikhtisar dan Kesimpulan
ARTl DAN JEJAK YANG DITINGGALKAN
Semua kebenaran selalu melewati tiga tahapan, Pertama dicerca, kedua ditentang, dan ketiga akhirnya diterima sebagai suatu kebenaran (Arthur Schopenhauer, 1788-1860). Demikian pula Pak Harto.
Dalam logika sederhana, kebenaran adalah fakta, dan fakta itu adalah bukti bukan prasangka. Logika sederhana ini menurut pemahaman saya adalah logika rakyat. Apa yang tampak, apa yang didapat, dan apa pula yang dirasakan oleh rakyat, substansinya adalah bukti atau kebenaran. Tanpa itu, tentu kita akan terperangkap dalam prasangka, praduga, dan aneka asumsi serta analisis yang belum tentu nyambung dengan logika rakyat (baca: logika yang sederhana).
Membangun Karakter Bangsa
Dua Jasa besar Pak Harto
Ikhtisar Dan Kesimpulan
Kronologi Data dan Peristiwa
HARI-HARI PANJANG YANG MELELAHKAN
Pengunduran diri Pak Harto sebagai Presiden RI, tentu saja tak luput dari adanya krisis ekonomi dan moneter yang terjadi di kawasan Asia Tenggara pada pertengahan tahun 1997. Di mulai dari jatuhnya nilai mata uang Bath, Thailand terhadap Dollar, yang efek dominonya, merembet pula ke Indonesia, dimana nilai tukar rupiah terhadap dollar melemah secara terus menerus.
Akibat dari krisis moneter, dimana situasi ekonomi tidak terkendali ini, berkembang menjadi krisis multidimensional yang berkepanjangan di berbagai bidang. Efeknya, sangat menyengsarakan rakyat karena harga-harga naik, BBM naik, hingga pelbagai unjuk rasa pun bergulir secara simultan. Krisis ekonomi kemudian berbuah menjadi krisis politik, yang berbuah pada pengunduran diri Pak Harto sebagai Presiden RI
Daftar Kepustakaan