
Wilayah pesisir merupakan kawasan yang sangat strategis untuk dikembangkannya berbagai kegiatan usaha budidaya perikanan seperti pertambakan, budidaya rumput laut, budidaya tiram mutiara dan keramba jaring apung. Penelitian mengenai kesesuaian lahan untuk pengembangan budidaya perikanan sistem keramba jaring apung ini dilaksanakan selama 4 bulan (Agustus – November) di Teluk Pelabuhan Ratu Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Luas areal penelitian adalah sebesar 7.585,42 ha atau 18 % dari total keseluruhan wilayah Teluk Pelabuhan Ratu (± 42.000). Aspek-aspek yang dikaji dalam penelitian ini meliputi analisis kesesuaian lahan, analisis estimasi beban limbah kegiatan keramba jaring apung, analisis estimasi beban limbah kegiatan non keramba jaring apung dan analisis jarak sebaran limbah. Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini adalah mendapatkan wilayah teluk yang sangat sesuai untuk dikembangkannya kegiatan usaha budidaya perikanan sistem keramba
jaring apung yang sesuai dengan daya dukung perairan teluk berdasarkan parameter biofisik perairan.
Oleh:
PRAMA HARTAMI
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008
COVER
ABSTRAK
PRAKATA
RIWAYAT
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam 10 tahun terakhir, jumlah kebutuhan ikan di pasar dunia semakin meningkat, untuk konsumsi dibutuhkan 119,6 juta ton/tahun. Jumlah tersebut hanya sekitar 40 % dan selebihnya sekitar 299 juta ton/tahun (60 %) dibutuhkan untuk bahan baku bagi industri farmasi, pakan dan sebagainya. Salah satu pemicu peningkatan kebutuhan tersebut adalah tingginya minat masyarakat dalam hal mengkonsumsi ikan. Di Indonesia, jumlah ikan yang dikonsumsi setiap orang pada tahun 2008 rata-rata 28 kg/tahun dan pada tahun 2010 dan 2030 diperkirakan akan naik menjadi 30 kg/tahun dan 45 kg/tahun. Di Filipina, Singapura dan Malaysia saat ini setiap orang mengkonsumsi ikan minimal 30 kg/tahun, Korea Selatan mengkonsumsi ikan sebanyak 60 kg/orang/tahun dan di Jepang mencapai 140 kg/orang/tahun.
1.2. Tujuan dan Manfaat
1.3. Kerangka Berpikir Penelitian
1.4. Perumusan Masalah
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi Wilayah Pesisir
Wilayah pesisir adalah suatu wilayah peralihan antara ekosistem daratan dan lautan, yang saling berinteraksi dan membentuk suatu kondisi lingkungan (ekologis) yang unik (Dahuri et al., 1996; Brown, 1996). Definisi wilayah pesisir yang digunakan di Indonesia adalah daerah pertemuan antara daratan dan laut; ke arah darat wilayah pesisir meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut, dan perembesan air asin; sedangkan ke arah laut wilayah pesisir mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses-proses alami yang terjadi di daratan seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di daratan seperti penggundulan hutan dan pencemaran (Soegiarto, 1976; Dahuri et al., 2001)
2.2. Pengembangan Wilayah Pesisir dan Lautan
2.3. Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan
2.4. Budidaya Perikanan Sistem Keramba Jaring Apung
2.5. Kualitas Air untuk Budidaya Ikan di Laut
2.5.a. DO (Oksigen Terlarut)
2.5.b. Salinitas
2.5.c. Suhu Perairan
2.5.d. pH
2.5.e. Kecepatan Arus
2.5.f. Nitrogen
2.5.g. Intensitas Cahaya dan Kecerahan
2.5.h. Kekeruhan
2.5.i. COD (Chemical Oxygen Demand)
2.5.j. BOD (Biochemical Oxygen Demand)
2.6. Daya Dukung Lingkungan
2.7. Estimasi Beban Limbah
2.8. Sistem Informasi Geografis dan Penginderaan Jarak Jauh
III. METODE PENELITIAN
3.1. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan di Teluk Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat, yang dimulai pada bulan Agustus 2007 - November 2007. Kegiatan ini meliputi tahapan studi pustaka, pengumpulan data baik primer maupun sekunder, penyusunan basis data, analisis data yang didapat dan penulisan laporan penelitian. Tahap pertama pengambilan data primer dilakukan pada tanggal 7 Agustus 2007 dan dilanjutkan pada tanggal 28 Agustus 2007 yang keduanya dilakukan pada saat musim Timur. Pengambilan data primer pada tahap ke kedua dilakukan pada saat musim peralihan yaitu tanggal 6
September dan 6 November 2007.
3.2. Bahan dan Alat Penelitian
3.3. Metode Penelitian
3.4. Pengumpulan Data
3.5. Analisis Data
3.5.1. Analisis Kesesuaian Lahan
3.5.2. Analisis Estimasi Beban Limbah Kegiatan KJA
3.5.3. Analisis Estimasi Beban Limbah Kegiatan Non KJA
3.5.4. Analisis Jarak Sebaran Limbah
IV. HASIL
4.1. Kondisi Umum Pesisir Teluk Pelabuhan Ratu
4.1.1. Kondisi Fisik dan Perwilayahan
Secara fisik wilayah pesisir Teluk Pelabuhan Ratu memiliki morfologi yang bervariatif dari dataran hingga perbukitan dan pegunungan. Dengan kondisi tersebut dapat dikatakan bahwa kesalahan dalam pengelolaan pada bagian atas akan dengan cepat berdampak terhadap wilayah pesisir dan laut. Potensi lain yang dapat dimanfaatkan dengan ekosistem kawasan pesisir mencakup pantai, muara sungai dan perairan dekat pantai. Secara administrasi wilayah Pesisir Teluk Pelabuhan Ratu terdiri dari 3 Kecamatan yaitu Kecamatan Cisolok, Pelabuhan Ratu dan Kecamatan Ciemas. Tabel 8 menunjukkan luas wilayah pesisir Teluk
Pelabuhan Ratu berdasarkan desa.
4.1.2. Iklim
4.1.3. Geologi
4.1.4. Hidrologi
4.2. Analisis Spasial Penentuan Lokasi dan Kesesuaian Lahan
4.2.a. Oksigen Terlarut
4.2.b. Salinitas
4.2.c. Suhu Perairan
4.2.d. pH
4.2.e. Kecepatan Arus
4.2.f. Amonia
4.2.g. Pasang – Surut
4.2.h. Kedalaman/Batimetri
4.2.i. Gelombang
4.2.j. Kecerahan Air
4.2.k. Turbidity/Kekeruhan
4.2.l. COD
4.2.m.BOD5
4.2.n. Parameter Biologi
4.3. Analisis Kesesuaian Lahan
4.4. Estimasi Beban Limbah
4.4.1. Estimasi Beban Limbah Keramba Jaring Apung
4.4.2. Estimasi Beban Limbah Non Keramba Jaring Apung .
4.5. Analisis Jarak Sebaran Limbah
V. PEMBAHASAN
5.1. Kondisi Biofisik Teluk Pelabuhan Ratu
Pengelolaan yang diterapkan untuk budidaya sistem keramba jaring apung seperti di Scotlandia, peletakan keramba apung harus pada kawasan yang memiliki kecepatan arus minimum adalah 5 – 10 cm/detik, hal ini bertujuan untuk mengurangi polutan yang dihasilkan dan untuk memastikan limbah yang dihasilkan terbawa dari lokasi budidaya (Lumb, 1989). Berdasarkan indeks sensitivitas perairan untuk pengembangan kegiatan budidaya yang dikemukakan oleh Velvin (1999) yang mengklasifikasikan kecepatan arus kedalam empat bagian yaitu: 1) < 3 cm/det merupakan kawasan yang sangat sensitif; 2) 4 – 6
cm/det sensitifitas kawasan perairannya sedang; 3) 7 – 10 cm/det perairannya sedikit sensitive; 4) 10 – 25 cm/det merupakan perairan yang tidak sensitif. Apabila kita mengacu pada indeks sensitifitas tersebut, maka kita dapat menyimpulkan bahwa perairan Teluk Pelabuhan Ratu berada pada kondisi yang tidak sensitive karena memiliki kisaran kecepatan arus sebesar 9,21 – 29,83 cm/detik.
5.2. Estimasi Beban Limbah
5.3. Arahan Pengelolaan
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
1. Berdasarkan kondisi fisik dan kimia perairan Teluk Pelabuhan Ratu di seluruh stasiun pengamatan memperlihatkan kisaran yang sesuai bagi pertumbuhan ikan yang akan dipelihara. Sementara itu berdasarkan data fisik perairan, maka Teluk Pelabuhan Ratu aman untuk dilakukannya pengoperasian kegiatan budidaya ikan dengan sistem keramba jaring apung.
6.2. Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1. Kerangka Pemikiran Penelitian
2. Skema Batas Wilayah Pesisir
3. Diagram Sistem untuk Ilustrasi SIG
4. Sistem Penginderaan Jauh
5. Lokasi Sampling Penelitian di Teluk Pelabuhan Ratu
6. Peta Desa Pesisir Teluk Pelabuhan Ratu
7. Kisaran Kandungan Oksigen di Teluk Pelabuhan Ratu
8. Sebaran Salinitas di Teluk Pelabuhan Ratu
9. Kisaran Suhu Perairan di Teluk Pelabuhan Ratu
10. Nilai pH yang Terukur di Teluk Pelabuhan Ratu
11. Grafik Kecepatan Arus di Teluk Pelabuhan Ratu
12. Grafik Kandungan Amonia di Teluk Pelabuhan Ratu
13. Kontur Batimetri Teluk Pelabuhan Ratu
14. Kisaran Gelombang di Teluk Pelabuhan Ratu
15. Kondisi Gelombang di Perairan Teluk Pelabuhan Ratu
16. Tingkat Kecerahan Perairan di Setiap Stasiun Pengamatan
17. Kondisi Perairan di Kawasan Ciemas
18. Grafik Tingkat Kekeruhan Perairan Teluk Pelabuhan Ratu
19. Perairan Teluk Pelabuhan Ratu yang Jernih
20. Konsentrasi COD Masing-masing Stasiun
21. Grafik Kisaran Kandungan BOD di Teluk Pelabuhan Ratu
22. Peta Kesesuaian Budidaya Sistem Keramba Jaring Apung
23. Peta Potensi Budidaya Laut Jawa Barat
24. Peta Potensi Rumput Laut Jawa Barat
25. Peta Pemanfaatan Perairan Teluk Pelabuhan Ratu
DAFTAR TABEL
Halaman
1. Kriteria Kualitas Air untuk Lokasi Budidaya dengan sistem KJA
2. Derajat Pencemaran Berdasarkan Nilai BOD5
3. Data satelit ocean color dan spesifikasinya
4. Parameter lingkungan perairan, satuan dan alat pengukurannya
5. Kriteria kelayakan lokasi untuk budidaya sistem KJA
6. Jenis dan Sumber Data
7. Estimasi buangan limbah non KJA di Teluk Pelabuhan Ratu
8. Luas Wilayah Pesisir Pelabuhan Ratu Berdasarkan Desa
9. Arah Angin Berdasarkan Bulan Di Teluk Pelabuhan Ratu
10. Hasil Perhitungan Matrik Kesesuaian Lahan Berdasarkan Lokasi
11. Estimasi beban limbah Kegiatan Budidaya Sistem KJA
12. Estimasi buangan limbah non KJA di Teluk Pelabuhan Ratu
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1. Hasil Pengukuran Kualitas Air di Teuk Pelabuhan Ratu
2. Kisaran Pasang Surut di Perairan Teluk Pelabuhan Ratu
3. Hasil Perhitungan Ni/Nmaks Matriks Kesesuaian Setiap Stasiun
4. Data Statistik Produksi Perikanan Propinsi Jawa Barat Berdasarkan Budidaya
Laut Tahun 2004 – 2008
5. Data Produksi Berdasarkan Jenis Ikan Di Provinsi Jawa Barat Pada Tahun
1999 - 2007 Pada Perairan Selatan Jawa
6. Data Nelayan Bagan Apung di Teluk Pelabuhan Ratu yang Menjadi
Responden