
Industrialisasi pertanian dapat ditempuh melalui dua pendekatan, yaitu pendekatan dari sisi penawaran (supply) dan dari sisi permintaan (demand). Dari sisi supply, industrialisasi pertanian dapat dilakukan melalui peningkatan pro-duktivitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak peningkatan produk-tivitas industri pertanian (agroindustri) terhadap kinerja ekonomi sektoral, ekonomi makro, pendapatan rumah tangga dan kemiskinan perdesaan. Dampak yang sama juga dianalisis jika peningkatan produktivitas agroindustri diikuti oleh peningkatan produktivitas sektor pertanian dan lembaga keuangan.
Oleh:
DWI HARYONO
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008
COVER
ABSTRAK
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sektor pertanian merupakan sektor yang berperan penting dalam per-ekonomian Indonesia. Hal ini dapat diukur dari pangsa sektor pertanian dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB), penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, pengentasan kemiskinan, perolehan devisa melalui ekspor non migas, penciptaan ketahanan pangan nasi-onal dan penciptaan kondisi yang kondusif bagi pembangunan sektor lain. Selain itu, sektor pertanian juga berperan sebagai penyedia bahan baku dan pasar yang potensial bagi sektor industri.
1.2. Perumusan Masalah
1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1. Tujuan Penelitian
1.3.2. Manfaat Penelitian
1.4. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pembangunan Pertanian
Pembangunan pertanian dapat didefinisikan sebagai suatu proses peruba-han sosial. Implementasinya tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan status dan kesejahteraan petani semata, tetapi sekaligus juga dimaksudkan untuk me-ngembangkan potensi sumberdaya manusia baik secara ekonomi, sosial, politik, budaya, lingkungan, maupun melalui perbaikan (improvement), pertumbuhan (growth) dan perubahan (change) (Iqbal dan Sudaryanto, 2008).
2.2. Industrialisasi Pertanian
2.3. Kemiskinan dan Kemiskinan Perdesaan
2.3.1. Konsep dan Ukuran Kemiskinan
2.3.2. Kemiskinan Perdesaan
2.4. Model Keseimbangan Umum
2.4.1. Properties Kondisi Keseimbangan Umum
2.4.2. Keseimbangan Produksi
2.4.3. Keseimbangan Konsumsi
2.4.4. Keseimbangan Simultan di Sektor Produksi dan
Konsumsi
2.5. Tinjauan Penelitian Terdahulu
III. KERANGKA TEORI
3.1. Model Pembangunan Dua Sektor
Model pembangunan dua sektor pertama kali dikembangkan oleh W.A. Lewis. Menurut Lewis, terdapat dikotomi dalam masyarakat di negara-negara ter-belakang yaitu adanya dua sektor yang hidup berdampingan, sektor capital intensive (industri) dan sektor labor intensive (pertanian). Pada prinsipnya, model pembangunan dua sektor ini menititkberatkan pada mekanisme transformasi struktur ekonomi yang dialami oleh negara-negara sedang berkembang (LDCs), yang semula lebih bersifat subsisten dan menitikberatkan pada sektor pertanian menuju ke struktur perekonomian yang lebih modern yang didominasi oleh sek-tor-sektor non primer, khususnya sektor industri dan jasa. Berkenaan dengan hal ini, maka industrialisasi pertanian merupakan media transmisi yang tepat bagi proses transformasi struktur ekonomi dari perekonomian subsisten ke perekono-mian modern.
3.2. Strategi Industrialisasi Pertanian
3.2.1. Strategi Industrialisasi Substitusi Impor
3.2.2. Strategi Industrialisasi Promosi Ekspor
3.3. Strategi Agricultural-Demand-Led Industrialization
3.4. Dampak Peningkatan Produktivitas
3.5. Kerangka Pemikiran Konseptual Penelitan
IV. METODE PENELITIAN
4.1. Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini sebagian besar merupakan data sekunder, antara lain: Tabel Input-Output (I-O) tingkat nasional tahun 2003, Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) atau Social Accounting Matrix (SAM) tingkat nasional tahun 2003, dan Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2002. Selain itu, juga diperlukan data makroekonomi dan sektoral serta parameter-parameter dugaan dari sistem persamaan yang didapat dari penelitian ekonometrika sebelumnya. Sumber data tersebut adalah Badan Pusat Statistik (BPS), Bank Indonesia, institusi nasional dan internasional, serta sumber lainnya yang berasal dari penelitan sebelumnya.
4.2. Metode Analisis
4.3. Struktur Model
4.4. Elastisitas dan Parameter Lainnya
4.5. Agregasi Sektor Rumah Tangga dan Input Lainnya
4.6. Analisis Kemiskinan
4.7. Diagram Alur Penelitian
4.8. Simulasi Kebijakan
V. MEMBANGUN DATA DASAR MODEL CGE AGROINDUSTRI
5.1. Tabel Input Output Indonesia Tahun 2003
Sumber data utama yang digunakan untuk membangun Model CGE Agro-industri adalah Tabel Input-Output (I-O) tingkat nasional tahun 2003. Untuk melengkapi data tersebut, juga digunakan data Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) atau Social Accounting Matrix (SAM) tingkat nasional tahun 2003 serta beberapa sumber data lainnya, seperti nilai elastisitas, investasi, produk domestik bruto, dan lain-lain. Penyusunan data dasar diawali dengan pemilihan komoditas, industri, rumah tangga, sumber komoditas (ekspor atau impor), jenis tenaga kerja dan input-input lainnya. Untuk memadukan agregasi sektor yang digunakan dalam Tabel I-O dan SNSE dilakukan mapping (pemetaan) antar sektor yang ter-dapat pada dua sumber data utama tersebut. Bab ini menjelaskan bagaimana membangun data dasar model CGE Agroindustri Indonesia (CGE AGRINDO) dengan menggunakan sumber data terbaru yang relevan dengan kondisi per-ekonomian Indonesia saat ini.
5.1.1. Struktur Input-Output
5.1.2. Agregasi dan Disagregasi Sektor
5.1.3. Keterkaitan antar Sektor Ekonomi
5.2. Sistem Neraca Sosial Ekonomi
5.3. Klasifikasi Rumah Tangga
5.4. Klasifikasi Tenaga Kerja
5.5. Pendapatan atas Lahan dan Modal
5.6. Penyusunan Matriks-Matriks Pajak
5.7. Elastisitas dan Parameter Lain
5.8. Prosedur yang Digunakan untuk Membangun Data Dasar
Model Keseimbangan Umum Agroindustri
5.8.1. Membangun Data Dasar
5.8.2. Membuat File Tablo
5.8.3. Agregasi Data Dasar
5.8.4. Pengujian Keseimbangan Data Dasar
VI. DAMPAK PENINGKATAN PRODUKTIVITAS TERHADAP KINERJA EKONOMI, PENDAPATAN RUMAH TANGGA DAN TINGKAT KEMISKINAN
6.1. Dampak Peningkatan Produktivitas terhadap Kinerja Ekonomi Sektoral
Peningkatan produktivitas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pe-ningkatan produktivitas faktor total atau total factor productivity (TFP). Terdapat tiga simulasi kebijakan yang dilakukan, yaitu peningkatan produktivitas industri pertanian (simulasi 1), peningkatan produktivitas industri pertanian diikuti oleh sektor pertanian (simulasi 2), dan peningkatan produktivitas industri pertanian, sektor pertanian dan lembaga keuangan (simulasi 3). Ketiga simulasi tersebut dikaji dampaknya terhadap kinerja ekonomi sektoral, ekonomi makro, pendapatan rumah tangga dan tingkat kemiskinan.
6.2. Dampak Peningkatan Produktivitas terhadap Kinerja Makroekonomi
6.3. Dampak Peningkatan Produktivitas terhadap Pendapatan Rumah Tangga
6.4. Dampak Peningkatan Produktivitas terhadap Kemiskinan
6.4.1. Insiden Kemiskinan
6.4.2. Kedalaman Kemiskinan
6.4.3. Keparahan Kemiskinan
VII. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN
7.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis terutama hasil simulasi kebijakan yang dilaku-kan, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
Peningkatan produktivitas industri pertanian berdampak positif terhadap jumlah output yang dihasilkan oleh industri yang bersangkutan. Apabila pe-ningkatan produktivitas industri pertanian juga diikuti oleh peningkatan pro-duktivitas sektor pertanian dan lembaga keuangan, maka hampir seluruh sek-tor mengalami peningkatan jumlah output.
7.2. Implikasi Kebijakan
7.3. Saran Penelitian Lanjutan
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN 1
LAMPIRAN 2
LAMPIRAN 3
LAMPIRAN 4