KELUARGA INDONESIA BERGERAK MAJU
Tanggal: 21 Jun 2010
Laporan: Prof Dr Haryono Suyono
 
Dalam suasana keprihatinan dunia dengan berbagai musibah yang saling berganti, sekitar 55 sampai 60 juta keluarga Indonesia pada hari Selasa 29 Juni 2010 diharapkan beramai-ramai merayakan Hari Keluarga Nasional atau Hari Keluarga yang ke 17. Hari Keluarga tahun ini secara kebetulan adalah yang ke 17 dan sekaligus bertepatan dengan Ulang Tahun Kemerdekaan RI yang ke 65. Hari Keluarga Nasional ditetapkan oleh pemerintah pada tahun 1993 berdasarkan UU nomor 10 tahun 1992 yang menyatakan bahwa keluarga adalah suatu lembaga masyarakat yang terdiri dari seorang bapak dan ibu dengan anak-anaknya, atau seorang bapak dengan anak-anaknya, atau seorang ibu dengan anak-anaknya, yang didasarkan atas hasil perkawinan yang sah. Pemilihan tanggal 29 Juni didasarkan peristiwa penting berkumpulnya kembali anggota keluarga yang selama berbulan-bulan sebagian besar mengungsi ke desa dan gunung-gunung berjuang mempertahankan kemerdekaan. Mereka berkumpul kembali pada tanggal 29 Juni 1949 dengan seluruh anggota keluarganya setelah Ibukota RI pada waktu itu, Yogyakarta, direbut kembali dari cengkeraman penjajah Belanda melalui perjuangan yang heroik dan pengorbanan yang maha dahsyat.

Peristiwa direbutnya kembali Ibukota RI pada waktu itu di Yogyakarta dilakukan melalui perjuangan yang gigih, perang gerilya yang menakjubkan karena didukung partisipasi rakyat yang kompak dan tidak takut mati, serta gempuran gigih tidak kenal berhenti, biarpun anak-anak muda pejuang bangsa hanya dilengkapi peralatan perang yang sangat sederhana. Perang gerilya yang serangannya tidak pernah bisa diduga menakutkan penjajah. Tidak jarang patroli Belanda yang perlengkapannya sangat modern dihabisi di luar kota dengan senjata sederhana tetapi didukung semangat rakyat yang berjuang tidak kenal mati sehingga serangan dan tembakannya disertai semangat perjuantqn dan keberanian yang tidak ada taranya. Keberanian anak-anak muda itu menumbuhkan simpati rakyat sehingga tidak satupun markas pejuang bisa dibongkar dan dilumpuhkan melalui operasi intel Belanda yang tidak berdaya karena kompaknya prajurit dan anak-anak muda dengan rakyatnya.

Gempuran yang tidak ada habisnya itu mengerikan dan akhirnya mendukung diplomasi yang dilakukan untuk mengembalikan Ibukota RI Yogyakarta ke tangan kita. Mulai tanggal 22 – 28 Juni 1949 secara berturut-turut prajurit Belanda meninggalkan Ibukota Yogyakarta. Pada tanggal 29 Juni seluruh prajurit muda dari hutan dan desa-desa kembali berkumpul dengan keluarga mereka memasuki Ibukota RI Yogyakarta. Keharuan, kegembiraan dan kebanggaan menyertai hari yang bersejarah itu karena anak-anak muda dengan tekad yang sangat kuat, biarpun hanya dengan senjata sederhana, sanggup mempertahankan dan memaksa Belanda menyerahkan kembali Ibukota Negara Kesatuan RI ke tangan kita.

Peristiwa sejarah itu membuktikan bahwa putra-putri sesepuh bangsa Indonesia sanggup meninggalkan keluarga yang dicintainya untuk bertahan dalam perang gerilya, tidak gentar menghadapi musuh dan sanggup mengorbankan nyawa dan segala harta bendanya untuk mempertahankan nama baik, kedaulatan dan kepentingan seluruh anak bangsanya. Tidak ada satupun dari anak-anak muda prajurit kita di masa itu yang berpikir kepingin mendapat imbalan dalam perjuangannya. Mereka berjuang semata-mata demi nama baik bangsa dan negaranya dan keinginan luhur untuk membangun negara, bangsa dan keluarganya membebaskan diri dari kebodohan, kemiskinan dan menjadikan bangsanya sebagai bangsa yang disegani, sejajar dan sanggup menatap masa depan dengan penuh harapan.

Mengambil hikmah dari sifat luhur anak bangsa sesepuh kita itu, kita berharap bahwa Hari Keluarga Nasional akan mengingatkan dan mendorong seluruh keluarga Indonesia untuk teguh memegang etos kebangsaan yang tahan uji, bersatu dan mencitakan tanah air dan anak bangsanya maju pesat untuk tetap mempertahankan kemerdekaan, mengkikis kebodohan, kemiskinan dan mempunyai tekad baja membangun keluarga dan bangsa yang bahagia dan sejahtera serta sanggup menatap masa depannya dengan harapan yang positip. Kita menjadi sangat prihatin karena cita-cita perjuangan yang luhur itu dewasa ini oleh beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab secara tidak sadar dirobek-robek demi kepentingan sesaat, kepentingan partai politik, kepentingan perorangan, atau demi “perjuangan demokrasi”. Padahal mereka berjuang untuk kekuasaan dan melupakan bahwa sebenarnya kita saling bersaudara dan merupakan kumpulan dari banyak sekali keluarga yang mencita-citakan negara dan bangsa Indonesia yang maju serta sanggup melindungi seluruh anak bangsanya membangun keluarga yang mandiri dan sejahtera.

Dalam semangat dan suasana Hari Keluarga Nasional yang ke 17 serta untuk memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI yang ke 65, Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) dengan seluruh jajarannya di daerah, bekerja sama dengan berbagai lembaga terkait, utamanya Yayasan Damandiri dan Kraftig Advertising serta pemerintah daerah dan berbagai perguruan tinggi bermaksud menggelar Safari Penyelesaian MDGs melalui pembentukan Pos-pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) di pedesaan dan pedukuhan. Upaya ini bukan sesuatu yang baru karena dewasa ini telah terbentuk lebih dari 7000 Posdaya di berbagai kabupatten, kota, desa dan pedukuhan.

Gerakan Safari MDGs tersebut merupakan kelanjutan dari usaha yang gigih dan selama ini telah dilakukan oleh berbagai kalangan, utamanya pemerintah daerah dan perguruan tinggi dengan berhasil. Pada tingkat perguruan tinggi Safari ini diharapkan didukung oleh kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik Posdaya yang telah dan akan diikuti oleh puluhan perguruan tinggi dengan gegap gempita. Pada setiap KKN tidak saja puluhan tetapi ribuan mahasiswa akan ikut serta dalam gerakan pembentukan dan pengembangan Posdaya yang ternyata membawa manfaat mengajak keluarga di pedesaan bersatu untuk maju.

Kegiatan Safari Posdaya ini akan merupakan ajakan yang simpatik bagi keluarga Indonesia untuk sekali lagi membuktikan bahwa dalam ulang tahun Hari Keluarga Nasional yang ke 17, keluarga Indonesia membuktikan kepada tanah air dan bangsanya bahwa mereka bisa mengisi kemerdekaan dengan bekerja keras untuk maju, menjadi keluarga yang bahagia dan sejahtera, serta menyelesaikan komitmen dunia dengan baik dan sempurna. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Umum DNIKS).
 
 
   
 
>> Kuliah Kerja Sibermas di Gorontalo
>> CERITA PERJUANGAN PAHLAWAN DEVISA
>> Safari MDGs dan Posdaya
>> KELUARGA INDONESIA BERGERAK MAJU
>> MEMBANGKITKAN KEMBALI KI HADJAR DEWANTORO
>> KONPERENSI PEMBANGUNAN SOSIAL DUNIA
>> MENGENANG DAN MENCARI PEJUANG KB DAN ANAK-ANAK
>> MEMBANGUN SUPER TIM
>> MEMBANGUN SUPER TIM
>> MEMBANGUN SUPER TIM
>> MEMBANGUN SUPER TIM
>> MEMPERLAKUKAN LANSIA SECARA TERHORMAT
>> SASARAN DAN TARGET MDGs MAKIN DIPAHAMI
>> MENCARI MUTIARA BANGSA
>> MEMBANGUN KEBERSAMAAN
  
 
 




Home | Profil | Kontak Kami | Buku Tamu
Redaksi Damandiri : redaksi@damandiri.or.id
Copyright © 2003 Damandiri.or.id
designed by Gemari Online
Streaming Radio DFM Jakarta

Gemari Online