HARI LANJUT USIA INTERNASIONAL

Oleh: Prof Dr Haryono Suyono

Awal minggu ini lebih dari 600 juta penduduk dunia, diantaranya lebih dari 25 juta berasal dari Indonesia, sebagai bagian dari lebih dari 7 milyar penduduk dunia yang umumnya berusia lebih dari 60 tahun, memperingati Hari Lanjut Usia Internasional. Sekitar 15 persen lansia itu termasuk penduduk yang menderita karena miskin atau sakit-sakitan. Keadaan ini sudah sangat membaik dibandingkan di masa lalu yang umumnya penduduk lansia lebih dari 90 persen menderita, karena dalam usia diatas 50 tahun sudah dianggap tua dan sakit-sakitan. Perubahan ini adalah karena usia harapan hidup bertambah panjang dan pelayanan kesehatan bagi penduduk juga bertambah baik. Penduduk yang beranjak tua semakin sehat dan bisa berada dalam keadaan usia lanjut dalam waktu yang lebih lama.

Karena itu sejak tahun lalu penduduk lanjut usia di Indonesia, yang jumlahnya mendekati angka 10 persen dari total penduduk, dan berkembang jauh lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk biasa, makin merasa lebih sehat dan siap ikut serta dalam pembangunan. Tekad tersebut disampaikan kepada pemerintah dan mendapat sambutan positif. Pada Hari Lanjut Usia Internasional tahun lalu telah dideklarasikan oleh Wakil Presiden RI, yang ditugasi oleh Presiden karena berhalangan, untuk tetap peduli dan ikut memberikan dukungan pada pemberdayaan bagi tiga generasi yang sedang tumbuh di Indonesia. Moto “peduli lansia” yang biasanya mewarnai segala kegiatan yang berkenaan dengan hari lanjut usia, disepakati dirubah menjadi moto baru yang lebih dinamis, yaitu: “peduli dan mendukung pemberdayaan tiga generasi”.

Berdasarkan moto baru itu, penduduk lansia mulai mengikuti berbagai pelatihan atau bahkan kuliah reguler jangka panjang empat semester, untuk memperoleh gelar akademis S2 atau S3 (doktor), karena selama ini dengan gelar sarjana S1 sudah dianggap cukup untuk bekerja menghidupi keluarganya dengan baik. Sebagai penduduk senior, dengan tugas-tugas baru, misalnya untuk mengajar pada perguruan tinggi, diperlukan gelar akademis S2 atau S3. Dengan kuliah kembali, tidak sedikit yang memperoleh gelar akademis S2 atau S3 sehingga dengan gelar akademis yang sempurna itu, dianggap memenuhi syarat untuk aktif mengajar pada tingkat perguruan tinggi.

Para lansia dengan pengalaman yang sangat luas, tetapi tingkat pendidikannya belum cukup tinggi, masih bisa ikut berjuang bersama generasi muda karena selama bekerja di masa muda telah menyerap pengalaman yang berharga yang dapat ditularkan kepada generasi yang lebih muda sebagai bahan bimbingan yang mendalam. Karena itu, Hari Lansia Internasional yang diperingati seluruh dunia minggu lalu secara sengaja atau tidak sengaja mematahkan mitos, bahwa penduduk lansia adalah sampah yang tidak ada gunanya untuk pembangunan bangsanya.

 Deklarasi yang dilakukan oleh Wakil Presiden RI dan didampingi oleh wakil-wakil lansia dari seluruh Indonesia tahun lalu, segera diikuti dengan pertemuan antara Ibu Negara dan wakil wakil penduduk lanjut usia yang berasal dari seluruh Indonesia. Dalam keterharuan yang tinggi, Ibu Negara, yang didampingi oleh para isteri Menteri yang terghabung dalam Sulidaritas Isteri Kabinet Indonesia Bersaru (SIKIP), yang umumnya masih muda, mengingatkan agar kebijakan dan pengalaman para lansia dimanapun mereka berada dan yang selama puluhan tahun mengabdi kepada nusa dan bangsa, dapat dikumpulkan dan diteruskan kepada generasi yang lebih muda.

Dengan dibekali dukungan dan semangat baru itu, penduduk lanjut usia di Indonesia makin bertekat tetap aktif ikut serta dalam kegiatan pembangunan. Untuk itu dimana-mana sedang diusahakan didirikan Silver College, yaitu wahana berkumpul untuk silaturahmi, sekaligus ajang untuk “kembali sekolah” agar mampu menguasai ilmu, tehnologi dan sekaligus memilah-milah pengalaman masa lalu yang dianggap masih relevan untuk diabdikan bagi pembangunan masa kini. Kesempatan kembali sekolah menolong setiap penduduk lansia untuk membantu mengembangkan partisipasi yang cerdas di setiap desa atau dukuh dimana penduduk lanjut usia itu berada.

Pada kesempatan lain penduduk lanjut usia dapat mengembangkan amal bhaktinya di rumah dan di kapung halamannya melalui program pemberdayaan pada Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) yang berkembang dengan pesat di pedesaan dan pedukuhan di seluruh Indonesia. Proses pemberdayaan yang berlangsung dalam lingkungan Posdaya, sifatnya sangat komprehensif sehingga penduduk lansia yang pengalaman atau kemampuan dan kearifannya sangat tinggi selalu bisa ikut terjun dalam penguatan delapan fungsi keluarga bagi keluarga yang lebih muda. Penduduk lansia dapat membantu setiap keluarga muda meningkatkan keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, membantu meningkatkan perhatian terhadap budaya bangsa, meningkatkan saling cinta kasih terhadap sesamanya, meningkatkan upaya untuk saling melindungi, meningkatkan pemahaman dan budaya hidup sehat, membantu orang tua muda mengantar dan mendampingi anak-anak usia dini untuk masuk PAUD atau mendampingi anak usia sekolah menyelesaikan pekerjaan rumahnya, membantu mengembangkan wirausaha di lingkungan keluarganya, serta membantu kelestarian lingkungan yang membawa manfaat untuk kehidupan yang lebih sehat dan sejahtera.

Bagi lansia dengan kemampuan yang tinggi dapat menyumbangkan tenaganya sebagai konsultan untuk daerah-daerah terpencil, daerah perbatasan maupun desa dan dukuh yang memerlukan petunjuk kearifan dan jaringan yang memberi kemudahan bagi pembangunan daerah dan masa depannya yang lebih baik. Menjadi lansia bukan akhir segalanya, karena dunia makin modern dan anugerah usia lansia yang lebih lama dapat disumbangkan untuk sebesar-besar kesejahteraan rakyat yang adil dan merata. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Mantan Menko Kesra dan Taskin).